Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 September 2018 | 12.30 WIB

Kisah Pilu Nek Ramlah, Sebatang Kara di Pondok Nyaris Roboh (Bagian 2)

ILUSTRASI kemiskinan. Nek Ramlah, janda 74 tahun itu berkali-kali mengeluhkan gubuknya yang reyot ke RT setempat. Namun, hingga kini tak ada respons. - Image

ILUSTRASI kemiskinan. Nek Ramlah, janda 74 tahun itu berkali-kali mengeluhkan gubuknya yang reyot ke RT setempat. Namun, hingga kini tak ada respons.

JawaPos.com - Nek Ramlah sadar usianya tak lagi muda. Jangankan bekerja, berjalan saja dia sudah tak kuasa.


"Berjalan pun tak mampu, kalau turun dari rumah pakai tongkat bambu," ungkapnya.


Begitu pula ketika sakit. Dia hanya bisa coba bertahan dan melawan deritanya itu lantaran tidak ada biaya untuk berobat.


Nek Ramlah sering mengeluhkan isi hatinya kepada para tetangga. Juga beberapa kali menyampaikan deritanya kepada RT setempat, agar mendapatkan bantuan pemerintah. Namun belum mendapatkan respons positif.


"Selama ini tak pernah saya dapat bantuan. Padahal saya janda dan tak bisa kerja," ucap Nek Ramlah sedih.


Putri sulung Nek Ramlah, Ida Jafar hanya bisa pasrah dengan keadaan yang dialami ibunya. Pasalnya, kehidupan perempuan 50 tahun ini tak jauh beda dengan ibunya.


"Saya mau bicara apa lah. Mau ngambek dia. Keadaan saya pun sama dengan dia. Rumah pun tak berdinding," paparnya dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (18/9).


Andai rumah miliknya dalam keadaan baik, Ida ingin sekali merawat ibunya. Namun, keinginannya itu belum bisa ia tunaikan.


"Mau saya bawa ke rumah, lantainya pun sabut kelapa dan bocor juga," ucapnya.


Ida keseharianya bekerja sebagai buruh tani. Untuk menafkahi keluarga dan pendidikan anaknya saja tak sanggup. Dirinya hanya bisa berharap ibunya segera mendapat perhatian pemerintah.


Pondok Nek Ramlah dibangun di lahan milik Hamzah. Pria ini meminjamkan tanahnya lantaran prihatin dengan kondisi Nek Ramlah.


Dia merasa sudah seharusnya di usia Nek Ramlah yang senja sekarang, janda itu bisa hidup tenang. Tidak banyak pikiran.


"Apalagi dia seorang janda. Jangan bekerja berjalan pun sudah tidak mampu," kata Hamzah.


Dia pun menceritakan awal mula Nek Ramlah mendirikan pondok di lahannya. Saat itu, Nek Ramlah minta izin tinggal di tanahnya.


"Saya kasihan lihat dia, kita izinkan dan perhatikanlah semampu sebagai warga," kisahnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore