Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 September 2018 | 12.10 WIB

Kisah Pilu Nek Ramlah, Sebatang Kara di Pondok Nyaris Roboh (Bagian 1)

ILUSTRASI kemiskinan. Nek Ramlah, 74, hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot yang nyaris roboh. Ia meminta uluran tangan dermawan dan pemerintah. - Image

ILUSTRASI kemiskinan. Nek Ramlah, 74, hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot yang nyaris roboh. Ia meminta uluran tangan dermawan dan pemerintah.

JawaPos.com - Nek Ramlah, begitu ia akrab disapa. Dia adalah penghuni sebuah pondok di RT 005/RW 005 Dusun Nirwana, Desa Sungai Kakap Kecamatan Sungi Kakap, Kabupaten Kubu Raya, yang nyaris roboh.


Pondoknya beratap daun nipah. Pun dengan dinding-dindingnya. Di sanalah, wanita 74 tahun itu hidup sebatang kara.


Di usia senjanya, beban pikirannya masih begitu pelik. Bertahun-tahun lamanya ia tinggal di gubuk reyot. Itu pun di lahan milik orang yang bersimpati dengan keadaan Nek Ramlah.


"Belasan tahun suami saya meninggal. Di sini lah saya tinggal," ucap Nek Ramlah dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (18/9).


Nek Ramlah memiliki empat orang anak perempuan. Semuanya sudah menikah. Masing-masing dikarunia anak. "Cucu saya ada 13 orang," katanya.


Malang bagi Nek Ramlah. Keadaan anak-anaknya itu pun tak jauh berbeda darinya. Bahkan ada yang lebih parah.


Atas dasar itulah Nek Ramlah memilih hidup sendiri. Sebatang kara meneruskan hidupnya, meski sesekali anaknya datang memberikan perhatian seadanya.


Dulu Nek Ramlah masih dapat tersenyum. Kondisi pondoknya tampak teduh. Atap cerah berwarna hijau.


Kini atap pondok Nek Ramlah tak hijau lagi. Sudah berwarna coklat. Menyusul usianya yang semakin renta.


Pondok Nek Ramlah tampak kusam dan reyot. Pintunya tidak dapat dikunci lagi. "Tak bisa dikunci lagi pintu ni, dah condong (miring)," lirihnya.


Tempat tinggal Nek Ramlah tak dapat lagi melindunginya dari hujan. Apalagi hujan di malam hari. Dia bahkan tak bisa tidur. Lantaran atap sudah bocor semua, air hujan akan membasahi lantai-lantai lapuk pondoknya.


"Jadi dikasih ember-ember lah menampung air dari atap yang bocor," terangnya.


Lokasi pondok Nek Ramlah tidak jauh dari laut. Sering dia harus merasakan kencangnya tiupan angin yang datang. Hingga satu persatu atap pondok Nek Ramlah harus direlakan beterbangan.


"Kadang kalau angin kencang, macam diangkatnya rumah ni. Kita tinggal sorang, kadang berteriak lah kite. Allahu Akbar, kata saya," ceritanya.


Di setiap sisi tongkat pondok Nek Ramlah tempati sudah rapuh. Tak kuat menahan beban terlalu banyak. "Rumah ni kalau hanya berdua nanggar (masih bisa) lah. tapi kalau lebih, bisa roboh," jelasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore