Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 September 2018 | 14.05 WIB

Dulu Dapat Omzet Rp 5 Juta Sehari, Sekarang Rp 300 Ribu Sudah Bagus

Suasana Pasar Turi Baru yang sepi menjadi pemandangan sehari-hari - Image

Suasana Pasar Turi Baru yang sepi menjadi pemandangan sehari-hari

JawaPos.com - Gedung utama sembilan lantai itu merupakan bangunan yang paling mencolok di antara lainnya. Bangunannya terlihat masih baru, didominasi warna kuning menyala. Halaman parkirnya juga terbilang cukup luas.


Kondisi kontras tampak dengan beberapa bangunan yang ada di sekitarnya. Persis di depan pintu masuk, beberapa lapak pedagang berjejer. Kumuh. Bangunan semi permanen itu memakan jalan, sehingga menganggu pemandangan gedung.


Ya, begitulah wajah Pasar Turi Baru Surabaya. JawaPos.com mengunjungi pasar legendaris itu beberapa waktu lalu. Meski terlihat megah di luar, kondisi di dalam Pasar Turi Baru sepi. Mirip kuburan.


Ketika masuk ke dalam, stan-stan kosong melompong. Rolling door stan-stan itu banyak yang digembok rapat. Ditinggalkan penjual karena sepinya pembeli.


Berdasarkan pantauan, kios di lantai satu sampai sembilan hanya sebagaian kecil saja yang dibuka. Lainnya tertutup rapat. Bahkan, di beberapa lantai, hampir tidak ditemukan seorang pembeli sama sekali. ”Kondisinya sekarang memang sangat sepi. Banyak penjual yang tutup karena rugi,” kata Ita Sulistiani, salah satu pedagang di sana.


Ita merupakan sebagaian kecil pedagang yang masih bertahan di tempat itu. Banyak teman-teman pedagangnya yang lebih memilih tutup.


Hal senada juga disampaikan oleh Sulistyowati. Penjual nasi yang menggelar dagangannya di lantai empat juga merasakan kelesuan ekonomi. Perempuan asal Waru, Sidoarjo, itu mengaku omzet dagangannya menurun drastis.


"Sekarang sudah sangat menurun karena nggak ada pembeli. Paling yang makan cuma pekerja-pekerja di sini. Ya kadang-kadang memang ada dari luar pulau. Setelah belanja naik ke sini dan makan. Tetapi nggak tiap hari," ujarnya setengah curhat.


Pemilik warung Bu Ninik itu menambahkan, tiga tahun lalu di lantai empat sangat ramai. Ratusan pedagang memenuhi tempat itu. "Pembelinya pun banyak. Kalau pengunjung habis belanja, pasti makannya di sini. Dulu ada sekitar 600 stan penuh," tambah Sulistyowati.


Sayangnya, kondisi itu  tidak bertahan lama. Lambat laun, para pengunjung mulai berkurang. "Kalau dulu dalam sehari bisa dapat Rp 5 juta. Sekarang Rp 300 ribu saja sudah bagus," lanjutnya.


Menurut Sulistyowati, sejak setahun lalu puluhan pedagang mulai tutup dan meninggalkan stan mereka. "Waktu ramai saya dulu sempat bayar orang untuk bantu-bantu. Tapi sekarang sudah nggak. Semua ditangani sendiri, nggak ada (uang) buat bayar," keluhnya.


Sulistyowati melanjutkan, manajemen Pasar Turi Baru menggunakan sistem syariah. Artinya mereka tidak memungut biaya sewa dari pedagang. Sebagai gantinya, pedagang wajib menyetor 15 persen dari total omzetnya. “Kami tidak bayar listrik dan sewa. Hanya sistem bagi hasil, manajemen cuma narik 15 persen. Tetapi tetap tidak ada yang mau," katanya.


Dia berharap agar Pemkot Surabaya bisa membuat terobosan untuk memajukan Pasar Turi. Menurutnya, Pasar Turi harus tetap berdiri. "Saya berharap agar ada kebijakan yang bisa membuat lebih maju. Bagaimanapun ini kan ikon Surabaya. Kalau Jakarta punya Tanah Abang. Surabaya punya Pasar Turi," pungkasnya.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore