
Syachroni (kiri) saat berjabat tangan dengan Rektor Unair M. Nasih
Gelar S.Si. M.Kes kini tersemat di belakang nama Syachroni. Mahasiswa Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) itu menjadi wisudawan terbaik, Selasa (11/9). Dia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna alias 4.0.
Aryo Mahendro, Surabaya
Konfeti selebrasi meletup saat Rektor Unair Moh Nasih menyerahkan ijazah Syachroni. Wajah Syachroni terlihat semringah. Meskipun sesekali gestur tubuhnya tampak gemetar.
Usai menerima ijazah dan berfoto bersama rektor, Syachroni menyerahkan setangkai bunga kepada sang ibunda. Bunga itu merupakan simbol penghormatan kepada orang tuanya yang telah mendoakan selama ini.
JawaPos.com berkesempatan berbincang dengan Syachroni. Dia mengaku senang atas prestasi yang dicapainya. Hanya saja, tidak terlalu girang juga. Syachroni mengatakan bahwa sejak semester pertama dirinya memang selalu mendapat Indeks Prestasi (IP) 4.0.
Syachroni kuliah di Unair atas beasiswa Kementerian Kesehatan. Di sanalah Syachroni bekerja. Tentu, ada syarat durasi masa studi dan IP yang ditargetkan dari Kementerian Kesehatan.
"Awalnya memang saya nggak pernah menargetkan IP segitu. Tapi, sejak semester pertama dapat IP segitu, akhirnya saya terpicu untuk selalu berusaha dapat IP 4.0. Ternyata, bisa selesai kuliah hanya 2 tahun," katanya.
Judul tesis yang diangkat oleh Syachroni adalah Upaya Peningkatan Keberhasilan Pengobatan terhadap Pasien Tuberkulosis Paru (TB Paru) di Surabaya. Syachroni mengaku punya alasan sendiri terkait pemilihan judul tersebut.
Menurutnya, Surabaya belum pernah mencapai success rate penyembuhan TB yang ditargetkan Kementerian Kesehatan selama lima tahun terakhir. Tingkat penyembuhan pasien TB bisa dikatakan sukses apabila berhasil mencapai success rate yang ditetapkan Kementerian Kesehatan yakni sebesar 90 persen.
"Menurut beberapa pakar, wilayah Surabaya utara memiliki kasus penyakit TB terbanyak. Itu yang menjadi akar masalah dari penelitian saya," tambahnya.
Seperti pada kegiatan penelitian pada umunya, ada yang namanya proses pengambilan data sampling. Sama halnya penelitian yang dilakukan Syachroni.
Proses tersebut dimulai dari cara dapat berhubungan langsung dengan si pasien. Namun alurnya juga tidak sembarangan. Mengingat TB tergolong penyakit menular.
Selain itu, Syachroni juga mengemban misi lain. Dia juga harus mendorong si pasien berperan aktif pada upaya penyembuhan selama enam bulan pengobatan.
Nah, ada startegi tersendiri yang diterapkan Syachroni demi menjaring dan mendekatkan diri ke pasien. Kata Syachroni, sistemnya ada dua. Sistem jemput bola, dengan mendatangi pasien di rumahnya dan memanfaatkan momen saat pasien berobat di puskesmas.
Syachroni tidak sendirian menjalankan misinya. Dia juga menggandeng tenaga Pengawas Menelan Obat (PMO) dan kader kesehatan di puskemas. Setiap pasien memiliki PMO atau kader sendiri. "Saya harus persuasi dahulu dengan tenaga kesehatan di puskesmas dan PMO-nya. Kalau ujug-ujug datang, sudah pasti ditolak oleh si pasien," lanjut pria berusia 31 tahun tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
