Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 September 2018 | 06.15 WIB

Sempurna, Syachroni Raih IPK 4,0 Selama Dua Tahun Kuliah

Syachroni (kiri) saat berjabat tangan dengan Rektor Unair M. Nasih - Image

Syachroni (kiri) saat berjabat tangan dengan Rektor Unair M. Nasih

Gelar S.Si. M.Kes kini tersemat di belakang nama Syachroni. Mahasiswa Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) itu menjadi wisudawan terbaik, Selasa (11/9). Dia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna alias 4.0.



Aryo Mahendro, Surabaya



Konfeti selebrasi meletup saat Rektor Unair Moh Nasih menyerahkan ijazah Syachroni. Wajah Syachroni terlihat semringah. Meskipun sesekali gestur tubuhnya tampak gemetar.


Usai menerima ijazah dan berfoto bersama rektor, Syachroni menyerahkan setangkai bunga kepada sang ibunda. Bunga itu merupakan simbol penghormatan kepada orang tuanya yang telah mendoakan selama ini.


JawaPos.com berkesempatan berbincang dengan Syachroni. Dia mengaku senang atas prestasi yang dicapainya. Hanya saja, tidak terlalu girang juga. Syachroni mengatakan bahwa sejak semester pertama dirinya memang selalu mendapat Indeks Prestasi (IP) 4.0. 


Syachroni kuliah di Unair atas beasiswa Kementerian Kesehatan. Di sanalah Syachroni bekerja. Tentu, ada syarat durasi masa studi dan IP yang ditargetkan dari Kementerian Kesehatan.


"Awalnya memang saya nggak pernah menargetkan IP segitu. Tapi, sejak semester pertama dapat IP segitu, akhirnya saya terpicu untuk selalu berusaha dapat IP 4.0. Ternyata, bisa selesai kuliah hanya 2 tahun," katanya.


Judul tesis yang diangkat oleh Syachroni adalah Upaya Peningkatan Keberhasilan Pengobatan terhadap Pasien Tuberkulosis Paru (TB Paru) di Surabaya. Syachroni mengaku punya alasan sendiri terkait pemilihan judul tersebut.


Menurutnya, Surabaya belum pernah mencapai success rate penyembuhan TB yang ditargetkan Kementerian Kesehatan selama lima tahun terakhir. Tingkat penyembuhan pasien TB bisa dikatakan sukses apabila berhasil mencapai success rate yang ditetapkan Kementerian Kesehatan yakni sebesar 90 persen. 


"Menurut beberapa pakar, wilayah Surabaya utara memiliki kasus penyakit TB terbanyak. Itu yang menjadi akar masalah dari penelitian saya," tambahnya.


Seperti pada kegiatan penelitian pada umunya, ada yang namanya proses pengambilan data sampling. Sama halnya penelitian yang dilakukan Syachroni.


Proses tersebut dimulai dari cara dapat berhubungan langsung dengan si pasien. Namun alurnya juga tidak sembarangan. Mengingat TB tergolong penyakit menular. 


Selain itu, Syachroni juga mengemban misi lain. Dia juga harus mendorong si pasien berperan aktif pada upaya penyembuhan selama enam bulan pengobatan. 


Nah, ada startegi tersendiri yang diterapkan Syachroni demi menjaring dan mendekatkan diri ke pasien. Kata Syachroni, sistemnya ada dua. Sistem jemput bola, dengan mendatangi pasien di rumahnya dan memanfaatkan momen saat pasien berobat di puskesmas.


Syachroni tidak sendirian menjalankan misinya. Dia juga menggandeng tenaga Pengawas Menelan Obat (PMO) dan kader kesehatan di puskemas. Setiap pasien memiliki PMO atau kader sendiri. "Saya harus persuasi dahulu dengan tenaga kesehatan di puskesmas dan PMO-nya. Kalau ujug-ujug datang, sudah pasti ditolak oleh si pasien," lanjut pria berusia 31 tahun tersebut.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore