Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Juni 2021 | 03.29 WIB

Pasca Lonjakan Kasus Bangkalan, Waspadai Kenaikan Angka Kematian

Petugas menurunkan peti mati di TPU Keputih Surabaya. Dok. JawaPos - Image

Petugas menurunkan peti mati di TPU Keputih Surabaya. Dok. JawaPos

JawaPos.com–Lonjakan kasus Covid-19 di Bangkalan dapat dikategorikan sebagai outbreak. Yakni peningkatan kejadian penyakit yang melebihi ekspektasi normal secara mendadak pada suatu wilayah.

Menurut Dokter Spesialis Patologi Klinis, Dokter Penanggung Jawab Pasien RS Darurat Lapangan Indrapura (RSLI) Fauqa Arinil Aulia, saat ini pemerintah perlu mewaspadai tingginya angka kematian. ”Setelah outbreak dengan kasus yang meningkat drastis, diikuti angka kematian. Kenapa Bangkalan? Karena saat itu Bangkalan seperti hampir tenggelam. Waktu itu lockdown. Dalam sehari ada 3–4 nakes dan dokter yang meninggal,” jelas Fauqa Arinil Aulia pada Selasa (15/6).

Dari kasus Bangkalan, pihaknya kemudian menganalisis mengapa kasus langsung meningkat drastis? Pihaknya curiga bila ada outbreak, ada varian baru.

”Kecurigaannya diperkuat dengan CT Value di bawah 25. Kemudian RSUD Bangkalan lockdown. Ternyata CT Value sampai 3 koma sekian dan 5 koma sekian,” terang Fauqa Arinil Aulia.

CT Value merupakan istilah untuk menggambarkan jumlah partikel virus dalam tubuh pasien. Artinya, tingkat infeksius atau kemampuan seseorang dalam menularkan virus juga dapat dinilai. Makin tinggi nilai CT seseorang, makin rendah kemungkinannya untuk menyebarkan virus yang dapat menginfeksi. Sebaliknya, makin rendah CT Value seseorang, pasien tersebut makin infeksius.

”Mungkin mereka merasa batuk pilek dan seterusnya. Kami nggak bisa menahan mobilitas warga. Penularannya sama,” ujar Fauqa Arinil Aulia.

Fauqa menjelaskan, terdapat 7 monitor atau tanda outbreak. Berdasar surat Kementerian Kesehatan, outbreak terjadi ketika virus menyebar secara luas dan cepat.

”Kemudian menjangkit komunitas yang sebelumnya tidak masuk kelompok rentan. Anak muda dan anak-anak juga harusnya nggak kena,” papar Fauqa Arinil Aulia.

Selain itu, vaksinasi tidak berpengaruh apapun. Ditambah dengan ada riwayat ke luar negeri. ”Replikasi virus juga masif dan infeksius. Dibuktikan dengan CT Value yang rendah. Kalau sebelumnya 33 ke atas, sekarang mayoritas 18 sampai 20,” kata Fauqa Arinil Aulia.

Untuk itu, menurut dia, kementerian kesehatan merekomendasikan pelaksanaan genome sequencing. Hal itu dilakukan untuk melihat varian virus baru.

Per Minggu (13/6), tercatat ada 539 kasus aktif di Bangkalan. Sebanyak 56 di antaranya adalah kasus baru. total 1.548 dinyatakan sembuh. Sedangkan 222 masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore