
Ilustrasi: orang tua terduga teroris yakini anaknya jadi korban cuci otak
JawaPos.com - Penangkapan pria berinisial Lu di Palangka Raya, Kalteng, mengejutkan banyak pihak. Apalagi dikaitkan dengan dugaan terorisme. Belum ada keterangan resmi terkait dugaan keterlibatan Lu dengan aksi terorisme. Polda Kalteng hanya membantu Densus 88 Mabes mengamankan Lu.
Kalteng Pos (Jawa Pos Group) melakukan penelusuran tentang Lu dan keluarganya. Kabar ditangkapnya terduga teroris Lu ternyata sudah diterima ayahnya, Mu. Pria yang sudah berusia lanjut itu tinggal di Pangkoh IX Blok E, Desa Purwodadi, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau.
Mu mengaku sangat terkejut menerima kabar tentang anaknya tersebut. Dia hanya tertunduk pasrah melihat kenyataan yang dihadapi anaknya. Saat Kalteng Pos bertandang ke rumahnya, Mu tak mampu menyembunyikan rasa sedihnya. Dia mengaku mengetahui anaknya mulai ada perubahan baru beberapa waktu terakhir.
“Bahkan saya sering mengingatkan dan menegur kenapa rambutnya panjang. Dia menjawab itu merupakan sunah Rasul. Saya bilang, sunah ya sunah, apa harus panjang. Katanya kalau panjang bisa banyak rejeki,” tutur Mu, Senin (13/8) malam.
“Saya sudah sering mengingatkan. Adik-adiknya juga sering mengingatkan,” timpal dia.
Mu mengaku, dia mengingatkan ajaran Islam yang dianut anaknya menurut dia aneh. "Saya ingatkan, jangan-jangan ajaran yang kamu anut dilarang pemerintah. Kalau saya ingatkan dia hanya menjawab dirinya memedomani Quran,” beber dia.
Namun, lanjut dia, hal itu dibantah Lu. “Yang saya anut hanya Alquran,” ujar Mu menirukan apa yang disampaikan Lu. Mu juga mengaku, Lu tidak pernah menyinggung soal teroris.
"Saya tanya sama istrinya apakah ada kegiatan lain di luar? Katanya tidak ada,” ungkapnya.
Saat pulang ke rumahnya, Mu mengaku Lu juga tidak pernah aneh-aneh. "Tidak pernah memengaruhi saya. Kalau salat ya salat dan biasa ke masjid. Menurut saya, Lu menjadi korban cuci otak. Saya tidak menyangka anak saya tersangkut kasus seperti ini,” kata dia.
Mu menambahkan, dirinya pun pernah menyampaikan kepada Lu untuk bergaya rambut panjang, tapi jangan sampai ikut-ikutan seperti berita-berita di televisi (berita tentang teroris, red). “Dia menjawab tidak,” ucapnya sambil menyeka mata.
Dia juga mengaku, ada yang mengatakan yang dianut Lu agama radikal dan dilarang pemerintah. "Saya jawab, masalah rambut panjang saja dibilangi orang tua tidak memperhatikan,” beber dia.
Bahkan, lanjut dia, terkait panjangnya rambut Lu, Mu pernah menegur apa tidak ditegur sama atasan. "Malah dia bilang akan mengajukan permohonan pensiun dini," katanya.
Mu juga mengungkapkan, saat pulang hari raya Idul Fitri, Lu juga membawa pipa yang dibentuk seperti senpi. "Ya dibunyikan menggunakan spirtus. Saya ingatkan tak usah main macam-macam," tandasnya.
Di mata Mu, Lu sebelumnya merupakan sosok yang ulet. Selain sebagai pegawai negeri sipil (PNS), untuk menambah penghasilan Lu juga pernah berjualan obat-obatan. "Ada perusahaan seperti ini saya tidak menyangka sama sekali,” tandasnya.
Sementara itu, seorang tetangganya, mengaku pernah debat soal agama. Sumber yang tidak disebutkan namanya itu menyebut, dirinya berdiskusi dengan Lu tentang agama sejak beberapa tahun lalu. Namun, dia mengaku masih sangat mengingat diskusi itu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
