
KARISMATIK: Gubernur Jatim periode 1993–1998 Basofi Sudirman juga memopulerkan baju dari bahan sarung. (RAKA DENY/DOK. JAWA POS)
Dari perwira TNI, penyanyi dangdut, hingga gubernur Jawa Timur menjadi jalan hidup Basofi Sudirman. Melalui lagunya, Tidak Semua Laki-Laki, pria kelahiran Bojonegoro itu masih dikenang sebagian masyarakat desa dengan baik. Juga melalui program satu desa satu produk.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya
---
LAGU Tidak Semua Laki-Laki ciptaan Leo Waldy tidak asing didengar di tahun 90-an. Album itu dinyanyikan Basofi saat menjadi wakil gubernur DKI Jakarta pada 1992. Popularitasnya pun ikut terkerek seiring albumnya cukup laku di pasaran. Muncul juga rumor, Gubernur DKI Jakarta Mayor Jenderal Wijogo Atmodarminto khawatir tersaingi oleh keterkenalan Basofi.
Meskipun, popularitas tokoh tidak sebegitu perlu di era itu. Maklum, gubernur dipilih melalui DPRD. Begitu juga saat Basofi dipilih menjadi gubernur Jatim pada 1993–1998 itu. Meski begitu, lagu yang bercerita soal jatuh cinta itu menjadi modal bagi dirinya. Khususnya di kalangan pujangga era Orde Baru. ’’Sedikit banyak lagu itu menjadi komunikasi politik bagi Pak Basofi waktu itu,’’ kata pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo.
Dari berbagai sumber, Basofi beberapa kali masuk dapur rekaman. Total ada tiga album yang dibuat pada 1992, 1997, dan 2000. Menariknya, di klip video album kedua Hanya Kau yang Kupilih, diselingi saat kegiatan dinas Basofi.
Kecintaan Basofi pada budaya daerah juga membuat dia jadi ikon fashion di Jatim. Termasuk menjadikan baju adat yang selalu muncul di acara kedaerahan. Yakni, berupa jas model safari dilengkapi rantai jam di saku, celana, dan jarik atau kain adat. Termasuk dilengkapi iket atau udeng penutup kepala. Baju yang sekarang dikenal sebagai baju Basofi.
Menurut Suko, kepandaian Basofi menjalin komunikasi memuluskan kebijakan politiknya. Pejabat yang pernah menjadi Kasdam Kodam I Bukit Barisan itu mencanangkan program kemandirian desa dengan mengusung satu desa satu produk. Kebijakan yang masih relevan diteruskan hingga sekarang. ’’Produk khas di masing-masing desa dan ini tidak menimbulkan persaingan karena produknya berbeda-beda,’’ jelas Suko.
Sementara itu, guru besar sosiologi Unair Prof Hotman Siahaan menyampaikan, tempat kelahiran Basofi bisa menjadi modal baginya untuk memahami karakter warga Jatim. Sehingga apa yang menjadi kebijakannya banyak dirasakan masyarakat desa. Termasuk dalam kebijakan satu desa satu produk. ’’Program ini membuat masyarakat akhirnya berinovasi,’’ ucap Hotman.
Dia menambahkan, lagu Tidak Semua Laki-Laki atau busana Basofi mungkin saat ini tidak begitu dikenal orang. Tapi, coba cari di market place, baju Basofi akan muncul segera. Begitu pula dengan lagunya masih abadi di YouTube. Peran Basofi yang meninggal pada 7 Agustus 2017 di Jakarta itu akan selalu melekat di hati masyarakat hingga sekarang. ’’Terutama terkait pemberdayaan di tingkat desa,” pungkasnya. (*/c17/jun)

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
