Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juli 2024 | 18.12 WIB

Lagu Dangdut-Baju Ikonik, Jurus Komunikasi Gubernur Kesebelas Jawa Timur Basofi Sudirman Mendekati Masyarakat

KARISMATIK: Gubernur Jatim periode 1993–1998 Basofi Sudirman juga memopulerkan baju dari bahan sarung. (RAKA DENY/DOK. JAWA POS) - Image

KARISMATIK: Gubernur Jatim periode 1993–1998 Basofi Sudirman juga memopulerkan baju dari bahan sarung. (RAKA DENY/DOK. JAWA POS)

Dari perwira TNI, penyanyi dangdut, hingga gubernur Jawa Timur menjadi jalan hidup Basofi Sudirman. Melalui lagunya, Tidak Semua Laki-Laki, pria kelahiran Bojonegoro itu masih dikenang sebagian masyarakat desa dengan baik. Juga melalui program satu desa satu produk.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

---

LAGU Tidak Semua Laki-Laki ciptaan Leo Waldy tidak asing didengar di tahun 90-an. Album itu dinyanyikan Basofi saat menjadi wakil gubernur DKI Jakarta pada 1992. Popularitasnya pun ikut terkerek seiring albumnya cukup laku di pasaran. Muncul juga rumor, Gubernur DKI Jakarta Mayor Jenderal Wijogo Atmodarminto khawatir tersaingi oleh keterkenalan Basofi.

Meskipun, popularitas tokoh tidak sebegitu perlu di era itu. Maklum, gubernur dipilih melalui DPRD. Begitu juga saat Basofi dipilih menjadi gubernur Jatim pada 1993–1998 itu. Meski begitu, lagu yang bercerita soal jatuh cinta itu menjadi modal bagi dirinya. Khususnya di kalangan pujangga era Orde Baru. ’’Sedikit banyak lagu itu menjadi komunikasi politik bagi Pak Basofi waktu itu,’’ kata pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo.

Dari berbagai sumber, Basofi beberapa kali masuk dapur rekaman. Total ada tiga album yang dibuat pada 1992, 1997, dan 2000. Menariknya, di klip video album kedua Hanya Kau yang Kupilih, diselingi saat kegiatan dinas Basofi.

Kecintaan Basofi pada budaya daerah juga membuat dia jadi ikon fashion di Jatim. Termasuk menjadikan baju adat yang selalu muncul di acara kedaerahan. Yakni, berupa jas model safari dilengkapi rantai jam di saku, celana, dan jarik atau kain adat. Termasuk dilengkapi iket atau udeng penutup kepala. Baju yang sekarang dikenal sebagai baju Basofi.

Menurut Suko, kepandaian Basofi menjalin komunikasi memuluskan kebijakan politiknya. Pejabat yang pernah menjadi Kasdam Kodam I Bukit Barisan itu mencanangkan program kemandirian desa dengan mengusung satu desa satu produk. Kebijakan yang masih relevan diteruskan hingga sekarang. ’’Produk khas di masing-masing desa dan ini tidak menimbulkan persaingan karena produknya berbeda-beda,’’ jelas Suko.

Sementara itu, guru besar sosiologi Unair Prof Hotman Siahaan menyampaikan, tempat kelahiran Basofi bisa menjadi modal baginya untuk memahami karakter warga Jatim. Sehingga apa yang menjadi kebijakannya banyak dirasakan masyarakat desa. Termasuk dalam kebijakan satu desa satu produk. ’’Program ini membuat masyarakat akhirnya berinovasi,’’ ucap Hotman.

Dia menambahkan, lagu Tidak Semua Laki-Laki atau busana Basofi mungkin saat ini tidak begitu dikenal orang. Tapi, coba cari di market place, baju Basofi akan muncul segera. Begitu pula dengan lagunya masih abadi di YouTube. Peran Basofi yang meninggal pada 7 Agustus 2017 di Jakarta itu akan selalu melekat di hati masyarakat hingga sekarang. ’’Terutama terkait pemberdayaan di tingkat desa,” pungkasnya. (*/c17/jun)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore