Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Juni 2026 | 02.50 WIB

Rembug Warga NU: Dorong Perbaikan Tata Kelola PBNU, Terapkan Transparansi Keuangan

Rembug Warga Nahdlatul Ulama (NU) se-Jabodetabek yang digelar di Universitas Terbuka, Kota Tangerang Selatan. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Kelompok Nahdlatul Ulama (NU) mendorong PBNU agar lebih profesional dalam pengelolaan organisasi. Salah satunya yakni dengan transparansi pengelolaan keuangan.
 
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Ali Muktiyanto mengatakan, warga NU memiliki tanggung jawab dalam menjaga organisasi. Sebagai warga NU, justru memiliki keberlanjutan yang tiada batas waktu.
 
"Saya sebelum lahir sudah NU. Jadi kita sebagai warga NU punya kewajiban moral yang lebih besar daripada pengurus PBNU itu sendiri. Pengurus bisa berganti, tetapi warga NU jangan pindah. Dari dalam kandungan pun kita sudah NU. Itu yang harus terus kita jaga," ujar Ali dalam Rembug Warga Nahdlatul Ulama (NU) se-Jabodetabek yang digelar di Universitas Terbuka, Kota Tangerang Selatan, Minggu (28/6).
 
Ali menyampaikan, memasuki abad kedua NU, tantangan yang dihadapkan lebih bervariasi. Saat ini tantangan nyata adalah membangun tata kelola organisasi yang akuntabel dan transparan.
 
 
"Hampir semua institusi hari ini menerapkan governance yang akuntabel dan transparan, sementara NU sejauh ini belum sampai ke sana. Tantangan terbesar kita hari ini adalah tata kelola," imbuhnya.
 
Adanya tata kelola yang profesional, membuat transparansi semakin tinggi. Audit oleh publik pun bisa dijalankan.
 
"Kalau memang mau diaudit, laporan keuangannya harus tersedia. Selama ini yang dipahami sebagai laporan keuangan sering kali hanya arus kas masuk dan keluar, padahal dalam governance modern laporan keuangan jauh lebih komprehensif," tegasnya. 
 
Dalam rekomendasinya kepada kepengurusan PBNU mendatang, Ali menyampaikan empat agenda pembenahan utama. Pertama, memperkuat perencanaan keuangan sehingga kegiatan organisasi tidak lagi bergantung pada sumbangan atau iuran yang bersifat insidental.
 
Kedua, memperkuat sistem pengawasan internal. Menurutnya, budaya organisasi selama ini masih terlalu mengandalkan kepercayaan personal sehingga fungsi kontrol belum berjalan optimal.
 
Ketiga, membangun manajemen risiko dalam setiap pengambilan kebijakan strategis. Ia mencontohkan polemik terkait pengelolaan tambang yang dinilai menunjukkan belum adanya mitigasi risiko yang memadai.
 
Keempat, menyusun laporan akuntabilitas secara terbuka dan dapat diakses publik agar meningkatkan kepercayaan warga NU terhadap organisasi.
 
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Tasikmalaya, KH Amin Mudzakkir menilai NU memiliki potensi ekonomi besar. Kondisi ini bisa menjadi kekuatan ekonomi umat bisa dikelola dengan tepat.
 
Ia mencontohkan keberhasilan sejumlah koperasi pesantren, seperti di Pondok Pesantren Sidogiri, Al-Ittifaqiyah, Sunan Drajat, dan sejumlah pesantren lainnya yang menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi pesantren memiliki daya saing tinggi apabila memperoleh dukungan yang memadai.
 
"Ini memang tidak sepenuhnya menjadi kesalahan PBNU. Negara juga memiliki peran besar untuk menghadirkan kebijakan yang mendukung berkembangnya entitas ekonomi lokal berbasis pesantren," katanya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore