
Sejumlah penumpang menunggu kedatangan bus TransJakarta tujuan Bandara Soekarno-Hatta di terminal Blok M, Jakarta, Jumat (12/06/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menetapkan kawasan Blok M, Jakarta Selatan, sebagai lokasi percontohan (pilot project) pertama untuk penerapan Kawasan Rendah Emisi Terpadu atau Low Emission Zone (LEZ). Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar peluncuran cetak biru "Kawasan Rendah Emisi Terpadu Jakarta: Dari Ambisi Menuju Aksi" hasil kolaborasi bersama inisiatif global Breathe Cities, Rabu (24/6).
Keputusan memilih Blok M ketimbang area ikonik lain seperti Kota Tua didasarkan pada kesiapan infrastruktur integrasi transportasi publik yang sudah matang di kawasan tersebut. Selain memiliki konektivitas intermoda yang kuat (MRT dan Transjakarta), Blok M dianggap merepresentasikan kawasan campuran (mixed-use) dengan aktivitas ekonomi tinggi yang ideal untuk menguji efektivitas pembatasan emisi.
Selain Blok M, dokumen peta jalan kebijakan berbasis data tersebut sebenarnya mengidentifikasi lima klaster prioritas di ibu kota. Wilayah tersebut meliputi Kota Tua, GBK–Senayan, Medan Merdeka, Dukuh Atas, dan Blok M sendiri.
Penerapan program ini dipastikan akan berjalan secara bertahap sepanjang periode 2026 hingga 2029. Pemerintah menerapkan pendekatan adaptif yang terus dievaluasi agar tidak mengagetkan ekosistem ekonomi lokal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan bahwa penanganan polusi udara tidak bisa lagi ditunda. Saat ini kendaraan bermotor masih menjadi penyumbang terbesar memburuknya kualitas udara di Jakarta.
"Udara bersih merupakan hak dasar setiap warga dan fondasi penting bagi kota yang sehat dan layak huni. Pemprov DKI Jakarta berkomitmen mengubah ambisi menjadi aksi nyata melalui tata kelola yang lebih kuat, regulasi yang jelas, serta kolaborasi lintas sektor," ujar Dudi Gardesi, Rabu (24/6).
Target Pangkas Polusi PM2.5 dan Hemat Rp1,9 Triliun
Bukan sekadar mengejar target ekologi, proyek LEZ ini memiliki dampak ekonomi dan kesehatan yang sangat masif bagi warga. Berdasarkan analisis data makro, skenario implementasi paling ambisius dari program ini diproyeksikan mampu menurunkan konsentrasi polutan berbahaya PM2.5 hingga 14,3 persen di seluruh kawasan prioritas. Bahkan, penurunan di area GBK-Senayan diklaim bisa menyentuh angka 20,7 persen.
Secara finansial, membaiknya kualitas udara Jakarta ini diperkirakan menghemat anggaran kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan warga hingga Rp1,9 triliun per tahun. Angka fantastis ini lahir dari kalkulasi penurunan drastis biaya pengobatan penyakit respirasi, berkurangnya paparan zat berbahaya, hingga menekan angka kematian dini akibat polusi.
Untuk memperkuat payung hukum program ini, Dudi membocorkan bahwa Pemprov DKI tengah merampungkan penyusunan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Kawasan Rendah Emisi. Regulasi ini dirancang agar eksekusi di lapangan berjalan transparan dan akuntabel.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Der Panzer Kejar Rekor Sempurna di Fase Grup
