
Kabid Humas Kombes Pol Budi Hermanto. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kenaikan pangkat kapolda menjadi jenderal bintang tiga dibarengi dengan penataan di jajaran Polda Metro Jaya. Jaminan peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat juga dipastikan oleh Irjen Asep Edi Suheri dan seluruh anak buahnya.
”Masih diatur tentang penataan kembali, artinya (setelah) jabatan kapolda Metro Jaya itu diduduki oleh bintang tiga,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dikutip Sabtu (16/5).
Sesuai dengan langkah yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 8 Tahun 2026, sejak 13 Mei 2026 lalu, jabatan kapolda Metro Jaya sudah diputuskan diisi oleh seorang perwira tinggi (pati) bintang tiga dari Polri.
Menurut Kombes Budi, peningkatan kualitas layanan dari jajaran Polda Metro Jaya kepada masyarakat akan terus dilakukan. Itu tidak terkait dengan naik atau tidaknya pangkat kapolda. Dia menyebut, perbaikan layanan berjalan dari waktu ke waktu agar masyarakat puas.
”Sebenarnya sama saja, (peningkatan kualitas) pelayanan pasti dari mana pun, tidak hanya masalah kenaikan pangkat, tetap harus ditingkatkan. Tapi, pastinya harus, kan sudah dengar bagaimana slogan Pak Kapolda Metro Jaya. Jangan sekali-sekali menyakiti hati masyarakat. Sudah itu saja yang dituntun. Itu sudah besar,” ujarnya.
Bambang Rukminto selaku pemerhati isu-isu kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) menyampaikan bahwa kenaikan status komando tanpa reformasi akuntabilitas, kontrol sipil, dan kultur demokratis aparat berisiko memperbesar struktur keamanan tanpa memperkuat rasa aman publik. Hal itu harus dijawab oleh Polda Metro Jaya.
”Ukuran keamanan demokratis bukan seberapa tinggi pangkat aparatnya, tetapi seberapa efektif negara menjaga stabilitas tanpa mengikis kebebasan sipil dan menjamin rasa aman nyaman masyarakat,” ucap Bambang saat diwawancarai pada Kamis (14/5).
Menurut Bambang, kenaikan pangkat kapolda Metro Jaya bukan hanya menaikan kelas Polda Metro Jaya sebagai salah satu satuan kerja (satker) kewilayahan Polri. Ada risiko yang membayangi keputusan tersebut. Diantaranya semakin dominannya pendekatan kontrol keamanan terhadap ruang sipil, demonstrasi, serta dissent politik.
”Problemnya, keamanan Jakarta sesungguhnya tidak semata soal kapasitas koersif negara. Akar persoalannya justru banyak bersifat struktural seperti ketimpangan sosial, distrust terhadap institusi, penegakan hukum yang problematik, dan polarisasi politik,” bebernya.
Di sisi lain anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Choirul Anam menyebut, dari aspek dinamika sosial, politik, dan ekonomi masyarakat di wilayah hukum Polda Metro Jaya juga berbeda dari polda-polda lain di Indonesia. Karena itu, pihaknya memandang keputusan Polri merupakan sinyal baik.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
