
Kondisi kebakaran yang terjadi di permukiman padat di Jl. Kali Anyar IV, RT 11/RW 02, Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora, pada Selasa (15/10/2024) dini hari. (Istimewa)
JawaPos.com - Tahun ke tahun, Kecamatan Tambora tidak pernah lepas dari cap sebagai salah satu daerah terpadat di Jakarta. Bahkan di Indonesia dan Asia Tenggara. Bagi petugas pemadam kebakaran (damkar) di Jakarta Tambora adalah tantangan. Berbeda dari daerah lainnya. Selalu ada cerita dari pemadaman kebakaran di kecamatan tersebut.
Merujuk publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), kepadatan penduduk di Tambora mencapai 50 ribu jiwa per kilometer persegi. Artinya ada 50 ribu orang tinggal pada setiap kilometer persegi di Tambora.
Di lingkungan yang dominan permukiman padat penduduk. Di rumah-rumah yang materialnya rentan terbakar. Tidak heran Tamboro mendapat atensi petugas damkar.
Data BPS juga mencatat, setidaknya 270 ribu jiwa tinggal di Tambora. Tersebar di 10 kelurahan. Kepala Seksi Kerjasama dan kehumasan Dinas Gulkarmat DKI Jakarta Mohammad Arief saat diwawancarai oleh JawaPos.com menyampaikan bahwa Tambora adalah salah satu lokasi kebakaran yang beberapa kali menelan korban, termasuk petugas damkar.
”Beberapa kali anggota kami tewas di Tambora. Itu kan karena struktur bangunannya yang nggak standar. Kami masuk, roboh, dan akhirnya kami ketimpa,” kata dia.
Dari pengalaman selama bertugas sebagai petugas damkar, Arief mengakui bahwa Tambora adalah lokasi kebakaran yang penanganannya paling berat. Di sana sudah ada Pos Pemadam Kebakaran Sektor Tambora.
Namun, tidak jarang penanganan kebakaran di Tambora melibatkan personel dan unit dari wilayah lain. Bahkan dari kantor pusat Dinas Gulkarmat DKI Jakarta.
”Di Tambora itu kan di sisi lain kami melindungi masyarakat. Tapi, di sisi lain juga untuk meng-handle kejadian di Tambora itu nggak sesederhana itu. Pemadam kebakaran itu sebenarnya kalau kebakarannya masih tertutup, itu bisa mereka menghitungnya (langkah penanganan paling efektif). Tapi, kalau kebakaran sudah terbuka, itu butuh air yang kontinyu,” terang.
Beberapa kali pemadaman di Tambor, seringkali petugas damkar berhadapan dengan api yang sudah menyebar, Si Jago merah yang menyala-nyala. Belum lagi letak persis lokasi kebakaran yang aksesnya tidak mudah dijangkau, jauh dari sumber air, dan minim fasilitas hydrant. Sehingga petugas damkar kerap kesulitan mengendalikan dan memadamkan api.
”Dan lebih bahayanya kan kalau di Tambora itu (suplai air) mati, nyala, (kebakarannya) rembet. Karena bangunannya, jarak antar bangunannya rapat, terus kebanyakan bahan bangunannya mudah terbakar dan akses-aksesnya kan sangat sulit,” jelasnya.
Karena itu, sejak dulu sampai saat ini Tambora masih menjadi daerah rawan kebakaran yang tidak ada duanya. Arief menyebut, Tambora adalah salah satu permukiman padat penduduk yang menjadi PR dalam tugas-tugas pemadaman kebakaran. Perlu upaya ekstra untuk menghapus cap daerah rawan kebakaran dari Tambora.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
