Sejumlah penyeberang jalan melintas saat hujan ringan (Muhammad Adimaja-ANTARA)
JawaPos.com - Hujan yang mengguyur wilayah Jakarta sejak Minggu pagi (29/6) menjadi pengingat bahwa musim kemarau tahun ini tidak berlangsung sebagaimana biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di berbagai daerah, termasuk destinasi wisata utama, selama libur panjang sekolah.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini masih cukup labil, meskipun secara klimatologis Indonesia telah memasuki periode musim kemarau.
“Seharusnya, pada periode Maret hingga Mei angin Monsun Australia sudah dominan membawa massa udara kering dari selatan. Namun tahun ini, kekuatannya tertahan, sehingga sistem atmosfer skala mingguan seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin masih aktif dan turut mendorong pembentukan awan-awan hujan,” kata Dwikorita dalam keterangannya, Minggu (29/6).
Dwikorita menyebut, suhu muka laut yang lebih hangat dari normal di wilayah selatan Indonesia turut memperkuat potensi pembentukan awan konvektif, yang dapat menghasilkan hujan deras, bahkan angin kencang dan petir. Hal ini yang menyebabkan terjadinya hujan sedang hingga lebat masih bisa terjadi, termasuk di wilayah yang biasanya sudah kering pada musim kemarau.
Berdasarkan prakiraan BMKG, dalam sepekan ke depan, wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Jawa tengah dan timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan, diprakirakan akan mengalami peningkatan curah hujan akibat aktivitas MJO.
Kelembapan atmosfer yang masih tinggi dan angin timuran yang belum stabil menjadi faktor pendukung lainnya.
“Masyarakat yang hendak bepergian ke tempat wisata agar selalu memperhatikan informasi cuaca terkini dari BMKG. Jangan hanya mengandalkan prediksi berdasarkan musim, karena dinamika atmosfer saat ini sangat aktif dan cepat berubah,” ujar Dwikorita.
Ia menambahkan, BMKG secara aktif memperbarui prakiraan cuaca dan peringatan dini untuk menjaga keamanan masyarakat selama masa libur sekolah.
Dwikorita juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan, terutama di wilayah pegunungan seperti Puncak, Bandung Utara, Jogjakarta, Malang, dan Batu, yang berpotensi mengalami hujan pada siang hingga malam hari. Di kawasan ini, hujan deras dapat menyebabkan longsor atau tumbangnya pohon.
Sementara itu, wilayah pesisir seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo, dan Nusa Tenggara Timur perlu mewaspadai gelombang tinggi dan angin kencang yang bisa mengganggu aktivitas wisata bahari.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau membawa perlengkapan seperti jas hujan dan pakaian hangat, serta menunda aktivitas luar ruang jika terdapat peringatan cuaca buruk.
“Kami terus memantau perkembangan sistem atmosfer secara real-time dan akan menyampaikan peringatan dini apabila terindikasi adanya peningkatan risiko cuaca ekstrem,” pungkasnya.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Prediksi Susunan Pemain Korsel vs Republik Ceko: Son Heung-min Tegaskan Siap Bantu Taegeuk Warrior Menang!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Dibayangi Ancaman Kuda Hitam dari Eropa
