
MENGAKU: Sidang kasus pembunuhan bayi oleh terdakwa Eka Sari Yuni Hartini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di Pengadilan Negeri Surabaya Senin (19/9). (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
JawaPos.com - Kematian Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili, 54, dan anaknya, M Adi Pradana alias Dana, 23, membuat kaget tetangga dan para sahabat. Apalagi, kematiannya diduga karena perbuatan istri mudanya yang sedang terlilit utang. Orang dekat korban merasa sedih dan sangat kehilangan.
Pengusaha yang akrab disapa Pupung itu diketahui rajin salat subuh berjamaah dan menjadi donatur masjid. Kesaksian itu disampaikan oleh Jani Ibrahim, 38, marbot Masjid Al Barkah. Ia mengaku kaget ketika mengetahui kabar kematian Pupung yang tewas bersama putranya, M Adi Pradana.
"Kaget, karena memang orangnya baik, sering salat subuh jamaah di sini, dia juga aktif maghrib mengaji setiap hari.fia juga jadi donatur tetap masjid udah lama," ungkap Pupung ditemui di Masjid Al Barkah, Jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan pada Selasa (27/8).
Absennya Pupung di Masjid Al Barkah sejak Kamis (22/8) lalu menurutnya menjadi pertanda kematian. Sebab, Pupung diketahui selalu hadir lebih awal, baik jelang Salat Subuh maupun Salat Maghrib. Bahkan, sebelum Shalat Maghrib berjamaah, Pupung seringkali menikmati segelas kopi di ruang marbot depan masjid. Begitu juga ketika habis Salat Subuh berjamaah.
"Terakhir ketemu itu kira-kira sebelum Jumat, Kamis. Bingungnya itu dia nggak muncul, biasanya itu duluan sebelum saya bangun. Biasanya juga sebelum Maghrib dia dateng, kita ngopi dulu, dia pasti tanya ada kopi apa nggak? Kalau nggak ada dia langsung kasih duit buat beli," ungkap Jani.
Photo
Rumah Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili di Jalan Lebak Bulus 1 Kavling 129 B Blok U15, RT 03/05 Lebak Bulus, Jakarta Selatan. (Istimewa)
Kematian Pupung yang tragis pun diakuinya sangat mengejutkan. Sebab, Pupung diketahui sangat akrab dengan tetangga ataupun pengurus masjid, Pupung pun katanya tidak pernah terlihat terbebani ada masalah. "Orangnya enak, kita biasa ngobrol setiap hari. Dia biasa cerita soal keluarganya, tapi nggak pernah cerita ada masalah, ya memang orangnya lurus-lurus aja," tambahnya.
Pengakuan serupa juga dilontarkan oleh kedua orang sahabat korban, yakni Edi Santoso dan Hidayat. Keduanya yang rutin Salat Subuh dan Salat Maghrib berjamaah maupun Maghrib Mengaji di Masjid Al Barkah itu tidak pernah mendapatkan curhatan dari almarhum.
Keduanya hanya membahas soal ibadah dan keseharian. Mengingat ketiga sahabat itu sudah memasuki usia senja. "Selama shalat subuh bareng tidak pernah ngeluh atau tidak pernah cerita ada masalah. Biasa aja, kita ngobrol soal ibadah, nggak ada yang lain," ungkap Edi, tetangga sebelah rumah korban.
Namun kejanggalan diketahui ketika jelang Salat Subuh pada hari Jumat (23/8). Almarhum yang setiap pagi telah tiba lebih dulu di depan rumahnya justru tidak terlihat. Absennya Pupung pun berlanjut hingga kabar kematian diterimanya pada Senin (26/8) malam. Pupung dilaporkan dalam pemberitaan menjadi salah satu korban pembunuhan yang dibakar dalam sebuah mobil di Sukabumi, Jawa Barat.
"Dari hari Jumat itu sudah nggak salat subuh. Padahal biasanya itu setiap hari salat subuh, dari rumah bareng, sekalian olahraga. Nggak ada pikiran ke sana, pikiran cuma mungkin keluar kota, nggak sama sekali (dibunuh)," ungkapnya.
Photo
Pelaku pembunuhan bapak dan anak ditangkap polisi. (Sabik Aji Taufan/ JawaPos.com)
Sementara itu, Mariati, istri Ketua RT 03/05 Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan menceritakan sosok Pupung Sadili yang sangat tertutup dengan lingkungan. Pupung tidak aktif dalam kegiatan lingkungan. Terlebih kegiatan kepengurusan RT 03/05 Lebak Bulus yang dipimpin suaminya, Agung.
"Orangnya memang tertutup, kita tahu kalau rumah komplek di pinggir jalan itu kan tertutup. Mungkin karena rumahnya menghadap jalan, jauh dari komplek, sementara rumahnya ketutup terus, jadi memang sosialisasi sama warga, khususnya (pengurus) RT itu kurang," ungkapnya ditemui di kediamannya.
Walau begitu, Pupung diungkapkannya sangat baik terhadap warga. Pria yang telah bercerai dan menikah lagi dengan Aulia Kesuma, 35, itu pun diketahui tidak pernah terlibat cekcok dalam keluarga. Padahal diketahui, Pupung dan istri tinggal bersama putranya, Mohammad Adi Pradana, 24, dan putri dari pernikahan dengan Aulia, yakni Mahaputri Reynaifa, 4, di rumah yang berlokasi di Jalan Lebak Bulus 1 Kavling 129 B Blok U15, RT 03/05 Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Selain itu, terdapat dua orang lainnya yang tinggal serumah dari keluarga Aulia, yakni Geovanni Kelvin Octavinus Robert, 24, dan Angelina Robert, 21. Kedua orang tersebut diungkapkannya tercantum dalam Kartu Keluarga (KK) korban. "Bapaknya (suami) nggak pernah dapet laporan ada ribut-ribut. Ya walaupun tertutup, kalau ada masalah pasti ada laporan ke RT, atau dari tetangganya. Tapi selama ini nggak ada, lurus-lurus aja," ungkapnya.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
