
Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Rano Karno menghadiri press conference APBD DKI, Rabu (27/8). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengungkapkan realisasi belanja daerah masih rendah, baru 37 persen hingga Juli 2025. Hal ini disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam konferensi pers APBD DKI di Balai Kota, Rabu (27/8).
Pramono memaparkan, hingga 31 Juli 2025, realisasi pendapatan daerah tercatat Rp45,63 triliun atau 56 persen dari target Rp81,73 triliun. Pendapatan Asli Daerah (PAD) menyumbang Rp31,52 triliun.
Namun, belanja daerah baru mencapai Rp30,95 triliun atau 37 persen dari target. Kondisi ini membuat Jakarta membukukan surplus anggaran Rp14,67 triliun serta Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Rp18,56 triliun.
"Jadi yang pertama begini belanja daerah memang baru 37 persen. Dan ini selalu dialami di pemerintahan kita," ujar Pramono.
Ia menjelaskan, rendahnya realisasi belanja di pertengahan tahun memang kerap terjadi di pemerintahan. Baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah (Pemda).
Hal itu disebabkan penyelesaian anggaran biasanya dilakukan pada penghujung tahun.
"Yang jadi problem adalah selalu hampir semua, termasuk di Jakarta ini, menyelesaikan anggaran itu di ujung, terutama nanti di bulan November-Desember. Saya sudah pengalaman 10 tahun di pemerintahan pusat, ini juga dialami yang sama," terangnya.
Pramono mengaku akan melakukan sejumlah perbaikan agar hal serupa tidak kembali terulang. Namun, ia tidak merinci langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini.
"Tetapi dalam hal belanja, perilakunya mungkin kurang lebih masih sama dengan pemerintahan pusat. Inilah yang next akan kami lakukan perbaikan untuk itu. Karena ini memang yang selalu jadi problem, apa tender-tendernya dipepetin, pengadaannya dipepetin, dan sebagainya-sebagainya," ucapnya.
Meski belanja rendah, ekonomi Jakarta tumbuh 5,18 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,12 persen. Inflasi juga terkendali di 2,25 persen, sementara tingkat pengangguran turun tipis ke 6,18 persen.
"Selain fiskal yang terjaga, aktivitas ekonomi di Jakarta juga tumbuh solid. Ekspor meningkat 17,26 persen, konsumsi rumah tangga naik 5,13 persen, dan konsumsi pemerintah tumbuh 5,16 persen," jelasnya.
Investasi di Semester I 2025 mencapai Rp140,8 triliun, menempatkan Jakarta sebagai tujuan investasi terbesar kedua nasional dengan kontribusi 14,9 persen.
Meski ekonomi tumbuh positif, kesenjangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah. Pemprov DKI meluncurkan program perlindungan sosial seperti Kartu Anak Jakarta, Kartu Lansia Jakarta, Kartu Disabilitas Jakarta, KJP Plus, KJMU, dan pangan bersubsidi.
"Program perlindungan sosial ini menjadi bantalan agar masyarakat kecil tetap kuat menghadapi dinamika ekonomi. Bahkan, kami sedang mengkaji perluasan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul, bukan hanya untuk S1, tetapi juga S2 dan S3," kata Pramono.
Selain itu, DKI menargetkan 21 job fair sepanjang 2025, termasuk pelatihan vokasi dan Mobile Training Unit (MTU) yang fokus pada peningkatan kemampuan bahasa asing.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
