JawaPos.com - Banjir yang melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mengakibatkan lumpuhnya aktivitas masyarakat, khususnya terjadi di wilayah Bekasi. Luapan itu diduga merupakan air kiriman dari Puncak, Bogor, Jawa Barat, yang dilanda hujan deras, serta kurangnya konservasi lahan.
Pakar tata kota, Nirwono Joga menilai, tidak ada perubahan yang signifikan terhadap tata ruang. Ia menyebut, konservasi lahan dari hulu sampai hilir saat ini mengalami kerapuhan akibat masifnya pembangunan.
"Kalau kita bandingkan 2020-2025 yang kemarin, praktis sebenarnya tidak banyak perubahan terhadap tata ruang, artinya tata ruangnya semakin masif berubah. Apa itu? dari hulu sampai dengan hilir, mulai dari atas yang seharusnya sebagai daerah konservasi lahan, dimana fungsi utamanya adalah resapan air, justru sekarang berkembang menjadi tempat tujuan wisata, pembangunan hotel, vila itu kan tetap masif di Puncak," kata Nirwono Joga dikonfirmasi, Minggu (9/3).
Menurutnya, akibat masifnya pembangunan di Puncak, Bogor, mengakibatkan kemampuan daya serap air berkurang. Hal itu juga yang mengakibatkan longsor dan air mengalir deras langsung ke aliran sungai.
"Kemampuan daya serapnya kan otomatis berkurang, secara alami bahwa air yang tidak terserap secara optimal tadi tentu akan mengalir ke sungai," ujar Nirwono.
Ia menduga, air yang tidak tertahan dari hulu mengakibatkan langsung mengalir ke sungai-sungai, sehingga tidak tertahan dan mengalir ke wilayah, Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi.
"Nah sungai-sungai inilah yang kemudian turun ke bawah, yang kemudian mengalir ke Jakarta, Bekasi dan Tangerang juga kalau kita perhatikan," ungkap Nirwono.
Sementara di hilir, sungai-sungai juga sudah mengecil akibat padatnya pemukiman. Hal itu yang mengakibatkan banjir besar yang melanda wilayah Bekasi, pada Selasa (4/3).
"Sungai-sungai tadi ikut mengecil, menyusut, kemudian mendangkal, karena kiri kanannya sudah banyak perubahan, itu juga tidak hanya terjadi di hulu, tapi juga di hilir. Puncaknya kita lihat di Bekasi misalnya, dimana di sekitar Kali Bekasi, kemudian ada Sungai Cikeas dan Cileungsi di atasnya, itu kan semuanya berubah fungsi jadi pemukiman," urai Nirwono.
Ia menekankan, wilayah bantaran sungai yang seharusnya menjadi resapan air, saat ini sudah dipadati pemukiman. Sehingga debit air yang tinggi tidak mampu menahan aliran sungai.
"Daerah aliran sungai yang seharusnya membantu penyerapan limpasan air hujan ataupun limpasan air sungai pada saat musim hujan, tidak bisa tertampung. Karena kiri kanannya sudah penuh bangunan," papar Nirwono.
Ia mengaku tidak heran jika Bekasi dilanda banjir. Sebab, wilayah yang dulu merupakan rawa-rawa dan sawah saat ini malah ditumbuhi bangunan dan beton-beton pencakar langit.
"Kemudian di Bekasi misalnya, yang dulu berupa rawa-rawa, setu, embung alami bahkan kemudian ada sawah, kini berubah menjadi pemukiman. Sehingga tidak heran, mau hujan sedang atau lebat, daerah-daerah tsb pasti akan terdampak banjir," pungkasnya.