
Sejumlah penumpang menaiki bus listrik TransJakarta di Terminal Blok M, Jakarta, Jumat (5/11/2021). Uji coba bus listrik TransJakarta beroperasi lebih awal mulai pukul 05.00 hingga 21.30 WIB seiring pemberlakuan PPKM level 1 di wilayah DKI Jakarta. Foto:
JawaPos.com - Direktur Eksekutif INSTRAN Deddy Herlambang menilai bus listrik yang sudah diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hanya berdampak kecil untuk mengurangi polusi udara di Jakarta. Tak hanya itu, bus listrik tidak bisa menghilangkan kemacetan yang selalu jadi momok menakutkan warga ibu kota.
Deddy berpendapat, jika hanya TransJakarta yang dielektrifikasi, maka strategi ini kontribusinya sangat kecil dalam menekan polusi Jakarta. Sebab, pengurangan polusi Jakarta tidak cuma dengan mengubah angkutan berbahan bakar fosil menjadi listrik, apalagi hanya TransJakarta.
"Kalau saya pikir bus listrik untuk mengurangi polusinya masih sedikit kontribusinya,” kata Deddy kepada JawaPos.com, Kamis (10/3).
Menurutnya, kehadiran bus listrik tersebut hanya merupakan sekedar promosi angkutan listrik yang diharapkan dapat mendorong minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. "Barangkali sekarang promosi angkutan listrik, ke depan kendaraan dinas atau PNS. Lalu kendaraan pribadi segera pindah ke listrik," kata Deddy.
Deddy memaparkan, untuk mengganti transportasi di Jakarta dari kendaraan berbahan bakar fosil menjadi listrik perlu dukungan dari beberapa aspek. Salah satunya terkait penyediaan SPKLU, hingga pengolahan limbah baterai.
“Penyediaan SPKLU listrik dan pengolahan limbah baterai belum siap. Apalagi baterai mobil besar-besar. Walau kadaluwarsa baterai 5 tahun tapi kan nggak ada jaminan 1-2 tahun tidak rusak. Itu kan sangat beracun nggak hanya bisa dibuang di sungai atau di tanam di tanah,” jelasnya.
Cara Mengurangi Kemacetan
Dia memberikan masukan, untuk mengurangi kemacetan Jakarta, pemerintah dapat menggunakan strategi push and pull. Push yaitu strategi menekan atau memaksa masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum melalui berbagai kebijakan. Sementara Pull, mengajak masyarakat untuk menggunakan angkutan umum karena terjangkau dan nyaman.
Deddy mencontohkan, solusi yang dapat digunakan untuk memaksa masyarakat menggunakan angkutan umum adalah dengan mengenakan tarif parkir yang tinggi pada kendaraan pribadi. Seperti di negara Hongkong dan Jepang. "Orang dari situ mereka kadang enggan punya mobil karena kalau satunya parkir aja mahal. Kalau di sini parkir masih murah," ucapnya.
Sementara, contoh strategi dalam mengajak masyarakat menggunakan angkutan umum perlu didukung fasilitas dan kualitas angkutan itu sendiri. Hal itu menjadi bagian dari strategi pull setelah push diterapkan. "Promosi angkutan (listrik) itu jangan sampai seperti TransJakarta mobil bagus-bagus tapi rawan kecelakaan orang kan juga jadi mikir," ucapnya.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
