Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Agustus 2023 | 22.55 WIB

Penyemprotan Air Atasi Polusi Udara Jakarta Dinilai Tak Efektif, Heru Akan Evaluasi

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono di Stasiun LRT Jatimulya, Bekasi usai mengecek LRT Jabodebek, Jumat (25/8/2023). (ANTARA/Siti Nurhaliza) - Image

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono di Stasiun LRT Jatimulya, Bekasi usai mengecek LRT Jabodebek, Jumat (25/8/2023). (ANTARA/Siti Nurhaliza)

JawaPos.com - Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono akan mengevaluasi kembali aksi penyemprotan air di jalanan Jakarta untuk atasi polusi. Pasalnya, aksi itu banyak menuai kritik lantaran dianggap tak efektif.

"Ya nanti akan dibahas. Kalau memang tidak boleh, ya saya berhentikan. Gampang," ujarnya kepada wartawan, Senin (28/8).
 
Heru mengaku memang sudah mendapatkan informasi terkait ketidakefektifan penyemprotan air di jalanan untuk atasi polusi di Jakarta. Namun begitu, ia menyatakan bahwa hal itu dilakukan karena meniru negara ASEAN lainnya.
 
 
"Saya tahu itu, tapi di salah satu kota di ASEAN melakukan itu dan memang beda situasi mungkin, ya," ucapnya.
 
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta melakukan penyiraman air di sejumlah wilayah yang ada di ibu kota sebagai salah satu langkah untuk mengatasi polusi udara. Namun, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Tjandra Yoga Aditama menilai langkah tersebut mesti diiringi dengan data ilmiah terkait efektivitasnya.
 
Ia menjelaskan, dari beberapa penelitian yang sudah ada terkait penyemprotan air untuk mengatasi polusi mempunyai konklusi yang berbeda. Ada yang menyatakan memang efektif mengatasi polusi udara atau bahkan malah membuat polusi semakin menjadi-jadi.
 
Tjandra mencontohkan penelitian dari Jurnal 'Environmental Chemistry Letters Volume' tahun 2014. Dalam penelitian itu, disebut bahwa penyemprotan air efektif dalam mengatasi PM 2.5 yang menjadi biang polusi udara.
 
 
"Jadi disebutkan bahwa penyemprotan air secara geo engineering dapat menurunkan kadar polusi PM 2,5 secara efisien," ujarnya dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (27/8).
 
Namun begitu, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI itu menyebut bahwa penelitian itu terbilang kuno lantaran metodologinya masih belum selengkap dengan penelitian-penelitian terbaru terkait hal ini seperti dalam penelitian lain dalam jurnal 'Toxics'.
 
Ia memaparkan, dalam penelitian yang diterbitkan pada Juni 2021 di Tiongkok itu, disebutkan bahwa penyemprotan air bukannya mengatasi polusi udara dan malah sebaliknya.
 
"Jadi disebut bukannya mencegah, tapi justru menambah polusi," tegas Tjandra.
Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore