Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 September 2026 | 03.13 WIB

Profil Syekh Ibrahim Al-Madani, Perjalanan Sang Muazin dari Madinah ke Masjidil Haram

Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al-Madani wafat pada Senin (21/9) waktu setempat. (KashmirTodayNews) - Image

Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al-Madani wafat pada Senin (21/9) waktu setempat. (KashmirTodayNews)

JawaPos.com - Syekh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani, salah satu muazin Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, wafat pada Senin (21/9) dalam usia sekitar 48 tahun. Sebelum suaranya dikenal dari Masjidil Haram, ia lebih dulu menjalani perjalanan panjang sebagai muazin di Madinah sejak usia sekitar 15 tahun.

Syekh Ibrahim wafat pada waktu fajar, 10 Rabiul Akhir 1448 Hijriah. Salat jenazahnya dilaksanakan setelah Salat Asar di Masjidil Haram, sebelum jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Ma'la.

Perjalanan hidupnya menjadi bagian penting dari kisah seorang muazin yang tumbuh dari lingkungan masjid di Madinah, mempelajari karakter azan di dua kota suci, hingga akhirnya dipercaya mengumandangkan azan dari Masjidil Haram.

Memulai Perjalanan sebagai Muazin di Madinah

Syekh Ibrahim lahir di Madinah pada 8 Zulhijah 1397 Hijriah. Ia tumbuh dalam keluarga religius dan mendapat pengaruh keagamaan yang kuat dari keluarganya. Kakeknya merupakan seorang hafiz Al-Qur'an yang turut membentuk kehidupan keagamaannya.

Ketertarikannya terhadap azan muncul sejak remaja. Pada usia sekitar 15 tahun, ia mulai mengumandangkan azan di masjid yang berada di lingkungan tempat tinggalnya.

Pada masa awal, Syekh Ibrahim menggunakan gaya azan Mesir. Ketika memasuki sekolah menengah hingga perguruan tinggi, ia kemudian lebih banyak menggunakan gaya azan Madinah.

Ia juga bergiliran menjadi muazin bersama tiga tetangganya hingga menyelesaikan kuliah.

Sempat berhenti mengumandangkan azan karena mengajar di luar Madinah, Syekh Ibrahim kemudian kembali menjalankan tugas tersebut di Masjid Al-Maddah pada 1428 Hijriah.

Madinah memang menjadi tempat penting dalam pembentukan dirinya sebagai muazin. Ia tidak pernah menjadi muazin Masjid Nabawi, tetapi tradisi azan di kota itu membentuk karakter suara dan gaya azannya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore