Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Juli 2025 | 16.22 WIB

Tidak Sekadar Tempat Ibadah, Masjid Menjadi Pusat Ketahanan Keluarga

Jemaah mengikuti salat Idulfitri 1446 Hijriah di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Jawa Timur, Senin (31/3/2025). (Riana Setiawan/ Jawa Pos) - Image

Jemaah mengikuti salat Idulfitri 1446 Hijriah di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Jawa Timur, Senin (31/3/2025). (Riana Setiawan/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut krisis spiritual dan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini tidak bisa hanya diatasi melalui pendekatan sektoral. Krisis itu harus diselesaikan dengan peran strategis institusi keagamaan, terutama masjid untuk menjangkau langsung keluarga sebagai inti masyarakat.

“Masjid bukan hanya tempat shalat. Masjid harus menjadi pusat layanan spiritual, edukasi, konseling, dan pembinaan keluarga,” tegas Nasaruddin Umar saat menutup kegiatan Saraloka Kemasjidan dan Kick-Off Program FOREMOST, di Jakarta, Selasa (8/7).

Adapun FOREMOST adalah singkatan dari Family Orientation at the Mosque’s Site. Program itu strategi baru pembinaan keluarga berbasis masjid. Program itu menjadi bagian dari upaya jangka panjang Kementerian Agama (Kemenag) dalam memperkuat peran masjid yang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat ketahanan keluarga.

“Masjid harus kita reorientasikan sebagai pusat pemulihan jiwa dan pembentukan karakter umat. Dalam konteks itu, keluarga adalah pilar utama,” ujarnya.

Imam Masjid Istiqlal itu berharap setiap masjid dapat menjadi tempat service rohani, ruang pemulihan batin, dan penguatan moral umat. “Mari kita ubah cara pandang terhadap masjid. Dari tempat ritual menjadi pusat peradaban. Dari tempat berkumpul menjadi ruang membina dan menyatukan," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kemenag Abu Rokhmad menjelaskan, program FOREMOST akan menjadi model nasional pembinaan keluarga berbasis masjid. “FOREMOST dirancang sebagai platform kolaboratif antara takmir masjid, penyuluh agama, dan mediator keluarga,” ujar Abu.

Dia menambahkan, masjid akan dilibatkan sebagai ruang pembinaan yang konkret dengan agenda tetap seperti edukasi peran orang tua, bimbingan pranikah, konseling rumah tangga, hingga literasi ekonomi keluarga. “Ini program menyentuh akar persoalan keluarga modern,” katanya.

Dia menekankan pentingnya kerja kolaboratif dalam menyukseskan program ini. “Kami bangun skema kolaborasi pentahelix, agar pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan media bergerak bersama,” ucapnya.

Menurut Abu, FOREMOST juga dirancang untuk menjawab isu-isu kontemporer seperti penurunan angka pernikahan, ketahanan keluarga, krisis pengasuhan anak, dan melemahnya ikatan spiritual dalam keluarga.

“Dengan pendekatan yang kontekstual dan berbasis nilai-nilai Islam, FOREMOST diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang untuk pembinaan keluarga Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, program ini akan dijalankan melalui kolaborasi dengan penyuluh agama Islam, lembaga takmir masjid, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga lembaga pendidikan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama Arsad Hidayat menjelaskan, peluncuran program FOREMOST ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara BP4 Pusat dan Badan Kesejahteraan Masjid Pusat. “MoU ini menjadi dasar operasional program di lapangan,” kata Arsad.

Nantinya ada lebih dari 28.000 Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) yang akan menjadi mitra pelaksana di tingkat lokal. “Kami dorong agar setiap BKM menjalin kemitraan dengan mediator keluarga dari BP4 untuk menggerakkan layanan keluarga di masjid,” jelasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore