Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Oktober 2026 | 20.17 WIB

Jurnalis Kondang Bob Woodward Kecewa pada Jeff Bezos, Nilai Independensi Washington Post Terancam

Jurnalis investigasi Bob Woodward, reporter senior The Washington Post / Foto: (The New York Times) - Image

Jurnalis investigasi Bob Woodward, reporter senior The Washington Post / Foto: (The New York Times)

JawaPos.com — Bob Woodward, jurnalis investigasi legendaris yang membongkar skandal Watergate, mengaku kecewa terhadap Jeff Bezos, pemilik The Washington Post. Dalam memoarnya yang akan terbit, Woodward menilai miliarder pendiri Amazon itu melemahkan kepercayaan publik terhadap independensi pemberitaan melalui pemangkasan staf, perubahan kebijakan editorial, dan sikap diam menghadapi serangan Presiden Donald Trump terhadap pers.

Dilansir dari The New York Times, Selasa (27/10/2026), kritik tersebut menjadi salah satu pengungkapan utama dalam buku Secrets: A Reporter’s Memoir, yang dijadwalkan terbit pada 24 November. Woodward, yang telah bekerja selama 55 tahun di The Washington Post dan masih menyandang jabatan associate editor, mengakui bahwa dirinya pernah percaya Bezos akan melindungi kebebasan redaksi.

Woodward mengenang percakapannya dengan Bezos pada 2018, menjelang penerbitan buku kritis tentang Trump. Saat itu, Bezos meyakinkannya, “Jangan khawatir, saya mendukung Anda, Bob. Saya akan selalu mendukung Anda.” Namun, Woodward kini menilai janji tersebut tidak bertahan seperti yang dibayangkannya. Menurutnya, Bezos justru “mengorbankan kepercayaan publik terhadap jurnalisme The Washington Post yang agresif dan independen” demi kepentingan hubungannya dengan Trump.

Perubahan sikap Woodward mulai menguat pada 2024, ketika Bezos memutuskan membatalkan dukungan editorial surat kabar itu terhadap Kamala Harris menjelang pemilihan presiden. Bezos kemudian menetapkan bahwa The Washington Post tidak akan lagi mendukung kandidat presiden. Woodward mempertanyakan keputusan tersebut: “Saat itu, saya berpikir, apakah dia tidak membaca korannya sendiri atau buku-buku saya tentang Trump?” Menurutnya, waktu pengumuman itu menimbulkan kesan bahwa Bezos dan surat kabar tersebut menyerah kepada Trump.

Bezos selanjutnya mengarahkan halaman opini untuk hanya mendukung “kebebasan individu dan pasar bebas”, tanpa menyediakan ruang bagi pandangan yang berbeda. Woodward membayangkan betapa menyakitkannya keputusan itu bagi Katharine Graham dan Benjamin C. Bradlee, pemimpin penerbitan dan redaksi The Washington Post ketika surat kabar tersebut mengungkap Watergate. Dia juga menyoroti pemangkasan besar-besaran staf yang dinilainya mengkhianati warisan jurnalistik media tersebut.

Meski demikian, Woodward tidak menuduh Bezos mencampuri penulisan berita secara langsung. Dia mengakui The Washington Post masih menghasilkan liputan agresif mengenai Trump. Kekecewaannya terutama tertuju pada kegagalan pemilik media membela jurnalisme independen secara terbuka ketika presiden melancarkan intimidasi terhadap pers. “Saya merasa sedih karena Jeff Bezos tetap diam,” tulis Woodward. Dia menegaskan, “Belum terlambat bagi pemilik media untuk mengutamakan keberanian moral daripada keuntungan finansial.”

Di sisi lain, pihak The Washington Post membantah anggapan bahwa Bezos tidak mendukung independensi redaksi. Penerbit surat kabar itu, Jeff D’Onofrio, menegaskan, “Jeff Bezos tetap teguh membela karya kami, independensi kami, dan keselamatan para jurnalis kami.” Dia juga menyatakan Bezos tidak mencampuri pemberitaan dan editor yang berintegritas tidak akan menerima campur tangan semacam itu.

Memoar tersebut juga mengungkap identitas sejumlah sumber rahasia yang membantu Woodward membongkar skandal politik Amerika Serikat selama puluhan tahun. Salah satu pengungkapan itu berkaitan dengan dua orang dekat mantan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger, yakni Brent Scowcroft dan Lawrence Eagleburger. Keduanya menjadi sumber informasi mengenai momen ketika Presiden Richard Nixon menangis dan meminta Kissinger berdoa bersamanya, tak lama sebelum mengundurkan diri akibat skandal Watergate.

Woodward turut mengungkap lima hakim agung yang pernah berbicara dengannya untuk buku The Brethren, yakni Potter Stewart, Lewis Powell Jr., Byron White, Harry Blackmun, dan William Rehnquist. Dia juga mengakui kegagalannya sebagai editor ketika menerbitkan laporan palsu Janet Cooke tentang anak berusia delapan tahun yang kecanduan heroin. Woodward menyebutnya sebagai “kegagalan spektakuler” dalam penilaian editorialnya.

Pengakuan Woodward memperlihatkan persoalan mendasar dalam kepemilikan media: kekayaan pemilik dapat menopang keberlangsungan institusi jurnalistik, tetapi tidak otomatis menjamin keberanian redaksi. Bagi wartawan yang membangun reputasi melalui pengawasan terhadap kekuasaan, dukungan finansial saja tidak cukup apabila pemiliknya dinilai enggan mempertahankan independensi pers ketika kepentingan bisnis dan politik berhadapan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore