
Elon Musk, pendiri SpaceX, menanggapi pembatasan konektivitas satelit yang mengganggu operasi drone Ukraina (BBC)
JawaPos.com - Elon Musk menyebut pemerintah Amerika Serikat (AS) mungkin bertanggung jawab atas pembatasan kecepatan yang mengganggu konektivitas sistem satelit untuk operasi militer Ukraina.
Gangguan tersebut membatasi kemampuan Kyiv mengoperasikan drone ketika Rusia meningkatkan serangan, sekaligus memperuncing ketegangan antara Ukraina dan Washington. Persoalan ini menyoroti besarnya pengaruh kendali atas teknologi komunikasi terhadap kemampuan pertahanan sebuah negara.
Dilansir dari BBC, Jumat (16/10/2026), pembatasan yang diberlakukan pada Selasa malam membuat perangkat yang bergerak lebih cepat dari 160 kilometer per jam kehilangan koneksi. Ukraina mengandalkan jaringan satelit SpaceX untuk memandu drone menuju sasaran Rusia sekaligus mengoperasikan drone pencegat guna menghadang serangan udara. Akibatnya, gangguan tersebut menghambat misi ofensif maupun defensif di medan perang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berharap gangguan itu hanya kesalahan teknis. "Saya berharap ini adalah kesalahan, mungkin masalah teknis yang besar. Saya tidak tahu, tetapi kami meminta agar layanan itu diaktifkan kembali," ujarnya kepada media Inggris.
Pada Rabu malam, mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov mengatakan konektivitas telah pulih sebagian. Dia menegaskan penghapusan batas kecepatan Starshield sepenuhnya penting bagi pertahanan Ukraina, sekaligus berterima kasih kepada Musk dan meminta dukungan berkelanjutan.
Menanggapi permintaan tersebut di platform X, Musk menegaskan bahwa kendali atas Starshield berada pada pemerintah AS.
"Sistem Starshield dimiliki dan dikendalikan oleh pemerintah AS. Setiap pembatasan kecepatan atau penggunaan diputuskan oleh militer AS dan pada akhirnya presiden," tulisnya.
Dia membedakan Starshield dari Starlink, layanan komersial SpaceX, dengan menyatakan bahwa Starlink diperuntukkan bagi kegiatan sipil atau pertahanan dan tidak boleh digunakan untuk operasi militer ofensif karena dinilainya tidak pantas bagi perusahaan komersial.
Laporan Reuters pada Kamis (15/10) memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai asal pembatasan. Mengutip dua pejabat AS dan seorang pejabat Barat yang mengetahui persoalan tersebut, Reuters melaporkan instruksi untuk membatasi Starshield berasal dari lingkungan Gedung Putih.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022