Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 02.30 WIB

Bill Gates Usulkan Perusahaan yang Mengganti Pekerja dengan Robot Tetap Membayar Pajak FICA

Bill Gates mengusulkan pajak setara FICA bagi perusahaan yang mengganti pekerja manusia dengan robot untuk menjaga pendanaan jaminan sosial dan Medicare / Foto: (Business Insider) - Image

Bill Gates mengusulkan pajak setara FICA bagi perusahaan yang mengganti pekerja manusia dengan robot untuk menjaga pendanaan jaminan sosial dan Medicare / Foto: (Business Insider)

JawaPos.com — Bill Gates kembali mendorong penerapan pajak atas tenaga kerja otomatisasi dengan mengusulkan agar perusahaan yang mengganti pekerja manusia dengan robot tetap membayar pajak penggajian setara dengan pekerja. Pendiri Microsoft itu menilai, penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang lebih murah tidak seharusnya membuat negara kehilangan penerimaan pajak sekaligus mengurangi perlindungan sosial bagi masyarakat.

Dilansir dari Business Insider, Jumat (9/10/2026), Gates menyampaikan gagasan itu dalam wawancara dengan Ezra Klein dari The New York Times yang ditayangkan pada Selasa. Dia menegaskan, masyarakat tetap memiliki kewenangan menentukan cara melindungi pekerja ketika teknologi mulai mengambil alih pekerjaan manusia. “Masyarakatlah yang berhak menentukan” bagaimana dukungan terhadap pekerja diberikan, menurut Gates.

Secara lebih konkret, Gates mengusulkan agar aktivitas kerja menjadi dasar pengenaan pajak, terlepas dari apakah pekerjaan itu dilakukan manusia atau robot. “Kita menetapkan satu unit kerja dan menyatakan bahwa, terlepas dari apakah pekerjaan itu dilakukan manusia atau robot, pajak FICA yang dibayarkan harus sama dengan pajak yang dibayarkan seorang pekerja manusia,” ujarnya. Sebagai informasi, FICA merupakan pajak penggajian di Amerika Serikat (AS) untuk membiayai program Jaminan Sosial dan Medicare.

Dalam sistem yang berlaku, pekerja menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kedua program tersebut, sementara pemberi kerja membayar kontribusi dengan nilai yang setara. Jika pekerjaan manusia digantikan mesin tanpa mekanisme pajak pengganti, pergeseran itu berpotensi menggerus penerimaan yang menopang program sosial. Bagi Gates, efisiensi bisnis perlu dipertimbangkan bersama dampaknya terhadap pembiayaan negara.

“Sekadar karena pertimbangan ekonomi menunjukkan bahwa menggunakan AI lebih murah, bukan berarti masyarakat harus memilih cara itu,” kata Gates. Dia sebelumnya memperingatkan bahwa AI mulai memengaruhi pekerjaan kerah putih, meskipun dampaknya sejauh ini masih terbatas. Dalam esai hampir 6.000 kata yang diterbitkannya pada Agustus, dia memperkirakan pekerjaan kerah biru juga akan menghadapi tekanan ketika kemampuan robot fisik berkembang.

Gates mengakui robot fisik masih tertinggal dibandingkan sistem AI, tetapi memperingatkan bahwa masyarakat meremehkan kecepatan perkembangan robot humanoid. Dia juga mengusulkan pajak atas token AI, satuan pemrosesan yang digunakan dalam sistem AI, untuk sedikit memperlambat peralihan dari tenaga manusia sekaligus membiayai pelatihan ulang pekerja dan memperkuat jaring pengaman sosial.

“Pajak atas token AI akan sedikit memperlambat peralihan dari tenaga kerja manusia dan menghasilkan dana untuk pelatihan ulang serta jaring pengaman sosial yang lebih kuat,” tulis Gates dalam esainya. Dia pertama kali mengusulkan pajak robot pada 2017. Hampir satu dekade kemudian, pendiri Microsoft itu menegaskan, “Saya masih sangat mendukung gagasan ini.” Dia mengakui pajak tersebut bukan solusi menyeluruh, tetapi “merupakan bagian dari respons yang bijaksana” terhadap ancaman AI.

Gagasan itu juga mendapat perhatian dari pemimpin industri teknologi lain. CEO Anthropic Dario Amodei mendorong kebijakan pajak yang lebih kuat, termasuk kemungkinan menyasar perusahaan AI, agar manfaat teknologi tersebar lebih luas. OpenAI juga mengusulkan pajak yang dikaitkan dengan tenaga kerja otomatis sebagai bagian dari upaya menghadapi disrupsi akibat AI.

Meski demikian, pajak robot bukan gagasan tanpa perdebatan. Pada 2017, ekonom Lawrence Summers mengkritiknya sebagai “proteksionisme terhadap kemajuan”, dengan alasan kebijakan itu berisiko menghambat produktivitas. Perdebatan tersebut menunjukkan persoalan utama yang belum terpecahkan: bagaimana membagi keuntungan otomatisasi tanpa mematikan inovasi. Gates sendiri tidak menganggap pajak sebagai jawaban tunggal, tetapi sebagai salah satu instrumen untuk menjaga agar kemajuan teknologi tidak mengorbankan pekerja dan pembiayaan perlindungan sosial.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore