Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Oktober 2026 | 19.21 WIB

Jelang Pemilu, IRGC Kirim Pesan Terbuka untuk Warga AS: Lawan Trump Lewat Kotak Suara

IRGC, Korps Militer Iran serang Israel. (https://www.britannica.com)

 

JawaPos.com - IRGC meminta warga Amerika Serikat menggunakan hak suara mereka untuk mengubah kebijakan pemerintah terhadap Iran. Seruan itu disampaikan beberapa pekan sebelum pemilu sela November, ketika perang Iran-AS masih menjadi salah satu persoalan politik dunia yang membebani pemerintahan Donald Trump.
 
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menerbitkan surat terbuka yang secara khusus ditujukan kepada masyarakat Amerika. Dalam surat tersebut, IRGC menuding pemerintahan Trump telah membohongi publik mengenai perang dengan Iran dan menyerukan perubahan melalui pemilu.
 
"Orang Amerika perlu bangun. Sekaranglah saatnya, karena sistem politik Amerika berada pada titik terlemahnya," tulis IRGC dalam surat tersebut. 
 
Pesan itu muncul ketika hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam ketegangan tinggi. Setelah kesepakatan gencatan senjata yang dicapai sebelumnya runtuh pada Juli, kedua negara kembali saling melontarkan ancaman dan serangan secara berkala, sementara upaya mediator untuk menghidupkan kembali perundingan belum membuahkan kesepakatan baru.
 

IRGC Bidik Pemilih, Bukan Pemerintahan Trump

Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menegaskan bahwa surat tersebut bukan ditujukan untuk mengubah sikap pemerintahan Trump secara langsung.
 
Menurutnya, sasaran pesan tersebut adalah masyarakat Amerika yang memiliki hak untuk menentukan arah politik negaranya melalui pemilu.
 
Surat itu meminta warga AS 'merebut kembali kendali dari politisi korup' dan menggunakan suara mereka untuk mendorong perubahan kebijakan Washington.
 
Langkah tersebut menjadi menarik karena terjadi menjelang pemilu sela AS pada November. Pemilu tersebut akan menentukan komposisi Kongres dan menjadi momentum politik penting bagi pemerintahan yang sedang menghadapi persoalan perang, biaya hidup, serta kebijakan luar negeri.
 
IRGC memanfaatkan momentum itu untuk membawa konflik dengan Washington ke ranah politik domestik Amerika.

Trump Sebut Iran Ingin Pengaruhi Pemilu

Seruan IRGC muncul setelah Trump sebelumnya menuduh pemerintah Iran berusaha memperpanjang perang untuk memengaruhi hasil pemilu.
 
 
Trump juga mengatakan pemerintahan Iran semakin dekat dengan keruntuhan dan akan mencari jalan untuk mengakhiri perang setelah pemilu sela.
Namun, Iran menyampaikan narasi yang berlawanan.
 
Dalam suratnya yang dikutip via Times, IRGC menyatakan Iran telah memenangkan perang dan menilai Amerika Serikat gagal mencapai tujuan yang ditetapkan ketika melancarkan serangan terhadap Iran.
 
IRGC menyebut Iran masih mempertahankan pengaruh terhadap Selat Hormuz dan program nuklirnya tetap bertahan. Kelompok tersebut juga menilai perang telah merusak citra Amerika Serikat di dunia.
 
Klaim tersebut merupakan versi IRGC mengenai hasil konflik dan berlawanan dengan pernyataan pemerintah AS mengenai keberhasilan operasi militernya.

Perang Iran Jadi Beban Politik di AS

Pesan IRGC tidak muncul tanpa konteks di dalam negeri Amerika.
 
Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir Agustus menunjukkan 59 persen responden AS tidak menyetujui serangan militer Amerika terhadap Iran. Sebanyak 54 persen mengatakan aksi militer tersebut tidak sebanding dengan biayanya.
 
Pandangan mengenai perang memang terbelah berdasarkan afiliasi politik. Namun, biaya hidup menjadi persoalan yang lebih luas menjelang pemilu sela.
 
Perang juga berdampak terhadap pasar energi. Gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz setelah konflik dengan Iran membuat harga energi melonjak dan menambah tekanan inflasi di berbagai negara.
 
Kondisi tersebut memberi IRGC ruang untuk mengaitkan perang dengan persoalan yang dirasakan langsung masyarakat Amerika.

Selat Hormuz Jadi Bagian dari Perang Narasi

Salah satu isu yang disorot IRGC adalah klaim mengenai Selat Hormuz. Mohebbi menolak anggapan bahwa Iran telah kehilangan kendali terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
 
"Fakta bahwa Amerika mungkin mengelola, dengan biaya besar, masalah besar dan risiko tinggi untuk menyelinapkan kapal kecil melalui Selat Hormuz di bawah naungan kegelapan untuk mengekspor, katakanlah, 100 atau 200 barel minyak tidak berarti Selat itu terbuka," kata Mohebbi.
 
Di sisi lain, data perdagangan menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
 
 
Di sisi lain, Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah dari sejumlah produsen utama Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, telah mencapai level tertinggi sejak perang dimulai.
 
Lloyd’s List Intelligence juga melaporkan jumlah kapal Saudi yang melintasi Selat Hormuz dalam tiga pekan pertama September lebih tinggi dibandingkan jumlah pelayaran dalam satu bulan penuh sejak perang dimulai.
 
Dengan demikian, kondisi di lapangan menunjukkan lalu lintas energi mulai bergerak kembali, sementara Iran dan Amerika Serikat masih menyampaikan klaim berbeda mengenai tingkat kendali atas selat tersebut.
 
Serangan verbal IRGC terhadap Trump juga menyasar alasan utama yang digunakan Washington untuk melakukan serangan terhadap Iran.
 
IRGC menuding Gedung Putih sebagai 'pabrik kebohongan tiada henti'.
 
Kelompok tersebut mempersoalkan pernyataan Trump mengenai ancaman senjata nuklir Iran. Teheran selama ini menyatakan program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan membantah sedang mengembangkan senjata nuklir.
 
Penilaian intelijen AS pada Maret 2025 menyatakan Iran tidak sedang mengembangkan bom nuklir. Namun, Badan Energi Atom Internasional atau IAEA melaporkan Iran telah memiliki uranium yang diperkaya hingga 60 persen pada Juni 2025.
 
 
IAEA kemudian menyatakan pada September bahwa mereka belum dapat memverifikasi kondisi persediaan uranium Iran setelah fasilitas nuklir negara tersebut diserang AS dan Israel.
 
IRGC kemudian mengungkit pernyataan Trump setelah serangan sebelumnya yang menyebut program nuklir Iran telah 'dihapuskan'.
 
"Tapi kemudian, satu tahun kemudian, Trump kembali menyerang Iran dengan alasan kosong yang sama," tulis IRGC.
 
Surat itu juga memperluas kritik terhadap kebijakan luar negeri AS dengan menyinggung dukungan Washington kepada Israel.
 
IRGC menuduh Amerika Serikat ikut bertanggung jawab atas perang di Gaza dan Lebanon karena dukungan yang diberikan kepada Israel.
 
"Genosida di Palestina dan Lebanon dan perang tak berujung di belahan dunia lain dilakukan dengan uang pajak Anda," tulis IRGC.
 
Tuduhan genosida di Gaza sendiri ditolak Israel. Data korban yang dikutip dalam laporan tersebut terutama berasal dari Kementerian Kesehatan Gaza dan memiliki keterbatasan karena tidak membedakan warga sipil dan kombatan serta tidak dapat diverifikasi secara independen.
 
Bagi IRGC, isu tersebut digunakan untuk menghubungkan kebijakan luar negeri Washington dengan uang pajak masyarakat Amerika.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore