
Ilustrasi pemindaian kanker menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) / Foto: (The Guardian)
JawaPos.com — Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara kanker dideteksi, dipelajari, dan ditangani. Namun, di saat para pemimpin perusahaan teknologi menggambarkan AI sebagai calon penemu obat kanker, para peneliti mengingatkan bahwa penyakit ini jauh lebih rumit daripada persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan menambah daya komputasi.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (23/9/2026), sejumlah perusahaan AI besar mendorong harapan bahwa teknologi tersebut dapat mempercepat terobosan medis. Dario Amodei, CEO Anthropic, memperkirakan kanker dan sejumlah penyakit lain dapat ditangani dalam satu dekade. CEO OpenAI Sam Altman bahkan menulis, “Mungkin dengan komputasi 10 gigawatt, AI dapat menemukan cara menyembuhkan kanker.”
Optimisme itu berangkat dari kemajuan yang sudah terjadi. AI kini digunakan untuk pengembangan obat, penyusunan rencana terapi, pencitraan medis, hingga membantu operasi tumor otak. Ajit Goenka, radiolog dan spesialis kedokteran nuklir di Mayo Clinic, mengatakan, “AI dapat memperbaiki beberapa bagian proses itu dengan membantu kita mengidentifikasi risiko, mendeteksi penyakit, mengkarakterisasi tumor, memilih pengobatan, dan memantau.”
Salah satu contoh datang dari kanker pankreas. Sejak 2021, Goenka meneliti pemindaian CT pasien yang kemudian didiagnosis kanker. Sebagian hasil pemeriksaan sebelumnya dinyatakan normal, tetapi model pembelajaran mesin menemukan perubahan mikroskopis yang mungkin luput dari pengamatan manusia. Studi pembuktian konsep pada 2022 menunjukkan model dapat mengenali tumor sebelum diagnosis klinis. Perkembangan ini penting karena kanker pankreas merupakan kanker paling umum ke-12 dan penyebab kematian akibat kanker terbesar keenam di dunia.
Meski demikian, kanker bukan satu penyakit dengan satu penyebab dan satu pola biologis. Ada beragam kanker payudara, paru-paru, otak, darah hingga pankreas dengan karakteristik genetik berbeda. Felix Sahm, ahli neuropatologi University Hospital Heidelberg, mengatakan, “Ada lebih dari 100 jenis tumor di otak, jauh lebih banyak dibandingkan organ tunggal lainnya.” Karena itu, satu obat yang menyembuhkan seluruh kanker dinilai nyaris mustahil.
Keterbatasan tersebut membuat klaim industri teknologi berhadapan dengan kehati-hatian klinis. Sherene Loi, ahli onkologi di Peter MacCallum Cancer Centre, mengatakan, “Sampai AI benar-benar dapat berpikir dan melakukan eksperimen sendiri dalam skala besar, saya tidak yakin kita akan menemukan obat untuk semua kanker atau penyakit medis dalam 10 tahun ke depan.” Namun, menurutnya, AI tetap berpotensi menunjukkan manfaat dalam sejumlah bagian penanganan kanker, terutama diagnosis dan pengobatan yang lebih personal.
Salah satu contohnya terlihat pada penanganan tumor otak. Kolaborasi EUcanAI di Eropa menggunakan AI untuk menghubungkan hasil pencitraan, biopsi, pengurutan genetik, dan pilihan terapi agar keputusan klinis dapat dibuat lebih cepat. Sahm menyebut tujuannya adalah “mengurangi durasi ketidakpastian” pasien. Teknologi semacam ini masih dalam tahap uji dan belum menjadi praktik rutin, tetapi berpotensi membantu wilayah yang kekurangan fasilitas kanker dan tenaga spesialis
Di sisi lain, hambatan terbesar bukan hanya kemampuan AI. Emilia Javorsky, dokter dan ilmuwan di Future of Life Institute, menegaskan, “Kita tidak dapat menghitung kebenaran mendasar biologi, kita hanya dapat mengukurnya.” Dia mencatat bahwa setelah 13 tahun perkembangan AI dalam penemuan obat, belum ada satu obat yang berhasil melewati seluruh tahapan persetujuan regulator, penggantian biaya, dan penerapan klinis.
Persoalan itu menunjukkan mengapa tambahan komputasi tidak otomatis menjadi obat. AI dapat menghasilkan hipotesis, tetapi temuan tetap harus diuji melalui eksperimen, uji klinis, dan proses regulasi. Loi merumuskannya secara sederhana, “Seseorang tetap harus kembali dan melakukan eksperimennya, bukan?” Di Uni Eropa, sebagian besar riset berbantuan AI masih eksperimental dan belum memiliki jalur regulasi yang jelas untuk masuk pasar.
Meski begitu, keyakinan dari industri teknologi tetap tinggi. Rene Haas, CEO Arm Holdings, mengatakan dalam wawancara dengan BBC, “AI akan menemukan obat untuk kanker yang saat ini tidak dapat ditemukan oleh kita atau manusia lain sepanjang hidup kita. Saya percaya dalam masa hidup kita, AI akan membantu menyembuhkan kanker.” Dia menilai pemodelan hubungan penanda DNA dan kanker terlalu kompleks saat ini, tetapi perkembangan model dan komputer dapat mengubah keadaan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022