
Lengan robot bekerja di lini perakitan kendaraan Toyota Motor Manufacturing Czech Republic di Kolin, Republik Ceko / Foto: (Ars Technica)
JawaPos.com — Toyota mulai menggunakan keahlian pekerja untuk melatih robot humanoid yang ditujukan bekerja di lini produksi. Robot ELEY diperkenalkan ke sejumlah lini perakitan agar dapat mempelajari gerakan tangan manusia yang membutuhkan presisi. Langkah ini berlangsung ketika produsen otomotif dunia berlomba mengembangkan robot yang dapat menjalankan lebih banyak pekerjaan di lingkungan pabrik.
Dilansir dari Ars Technica, Rabu (23/9/2026), pekerja Toyota mengajari ELEY melakukan tugas melalui alat bantu berbentuk jigs yang mengikuti bentuk jari robot. ELEY bergerak menggunakan roda dan memiliki dua tangan untuk mengerjakan tugas perakitan. Dengan cara itu, gerakan yang selama ini menjadi keterampilan pekerja dapat digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran robot.
Toyota memiliki sekitar 18.000 pekerja berpengalaman di 60 pabrik di seluruh dunia, termasuk 11 fasilitas manufaktur di Amerika Serikat. Keterampilan mereka menjadi penting karena Toyota tidak hanya mengembangkan robot untuk melakukan pekerjaan tertentu, tetapi juga menguji kemampuan robot beradaptasi dengan tugas yang sebelumnya dilakukan manusia.
Wakil Presiden Eksekutif Toyota Hiroki Nakajima mengatakan arah tersebut tidak ditujukan untuk menghapus peran pekerja. “Kami menginginkan dunia menjadi tempat robot hidup berdampingan dengan manusia, bukan menggantikan mereka,” ujar Nakajima seperti dikutip Nikkei Asia dan Ars Technica.
Pernyataan itu muncul bersamaan dengan rencana otomasi berskala besar. Mulai 2028, Toyota Motor Group memperkirakan membutuhkan investasi sekitar USD 6,42 miliar per tahun atau sekitar Rp114,6 triliun dengan kurs Rp17.850 per dolar AS untuk memodernisasi pabrik. Toyota memperkirakan sekitar 400.000 robot dibutuhkan di fasilitas Toyota, perusahaan grup, dan pemasok utama. Target itu mencakup robot humanoid maupun nonhumanoid, sehingga tidak dapat disamakan dengan 400.000 robot humanoid.
Sekitar 150.000 robot direncanakan berada di fasilitas otomotif Toyota, sedangkan 250.000 lainnya ditujukan untuk fasilitas perusahaan grup yang memproduksi komponen dan material. Investasi tersebut juga mencakup robot industri, logistik otomatis, penggantian mesin serta sistem yang memungkinkan manusia dan robot bekerja bersama. Toyota belum mengungkap berapa banyak robot humanoid yang akan digunakan dalam keseluruhan target itu.
Perubahan ini memperluas pola otomasi yang sudah lama digunakan industri otomotif. Selama puluhan tahun, pabrik mengandalkan lengan robot dan robot bergerak untuk pekerjaan yang spesifik. Robot humanoid dikembangkan dengan tujuan lebih luas karena bentuk dan kemampuan geraknya diharapkan memungkinkan mesin bekerja di ruang yang sama dengan manusia. Namun, keselamatan, kemampuan kecerdasan buatan, biaya, dan produksi massal masih menjadi tantangan sebelum teknologi itu dapat digunakan secara luas.
Perlombaan tersebut juga melibatkan produsen lain. Hyundai berencana mulai menggunakan robot humanoid Atlas milik Boston Dynamics di pabriknya di Amerika Serikat mulai 2028. Pada 21 September, Boston Dynamics membuka pusat pelatihan di fasilitas Hyundai di Georgia untuk melatih Atlas mengerjakan tugas seperti menyiapkan dan mengurutkan komponen otomotif sebelum perakitan. Zack Jackowski, Chief Product and Technology Officer Boston Dynamics, mengatakan pusat itu ditujukan untuk “membuat pekerjaan manusia lebih aman dan lebih produktif.”
Kebutuhan otomasi juga berkaitan dengan persoalan tenaga kerja. Industri otomotif menghadapi kekurangan pekerja terampil dan populasi pekerja yang menua, sementara kendaraan listrik membutuhkan perubahan pada lini produksi. Di sisi lain, peningkatan penggunaan robot dan AI menimbulkan kekhawatiran serikat pekerja terkait pemutusan hubungan kerja dan tekanan terhadap kompensasi. Karena itu, janji Toyota mengenai koeksistensi manusia dan robot masih harus dibuktikan dalam penerapan nyata di pabrik.
Skala investasi Toyota juga mulai dibaca sebagai bagian dari perubahan bisnis yang lebih luas. Analis Bernstein menilai fokus perusahaan pada robotika dapat membuka ruang pertumbuhan di luar manufaktur kendaraan. “Kami memperkirakan pengumuman terkait robotika akan semakin sering muncul seiring Toyota mempercepat upayanya di bidang robotika,” tulis para analis tersebut. Dengan demikian, pekerja Toyota kini tidak hanya menggunakan robot, tetapi juga mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan robot untuk bekerja.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022