Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 September 2026 | 20.51 WIB

Chris Wright Sebut AS Mungkin Tak Capai Kesepakatan Nuklir dengan Iran, Konflik Terus Berlanjut

Chris Wright, Menteri Energi AS, memperingatkan peluang kesepakatan nuklir dengan Iran semakin tipis / Foto: (The Guardian) - Image

Chris Wright, Menteri Energi AS, memperingatkan peluang kesepakatan nuklir dengan Iran semakin tipis / Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Harapan Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan nuklir baru dengan Iran semakin menipis setelah Menteri Energi AS Chris Wright mengakui Washington mungkin tidak memperoleh perjanjian yang dapat mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Pernyataan itu menunjukkan strategi AS mulai bergeser dari pencarian kesepakatan menuju upaya melumpuhkan kemampuan nuklir Iran.

Wright menyampaikan penilaian tersebut ketika perundingan AS-Iran kembali menemui kebuntuan, sementara konflik militer kedua negara memasuki bulan ketujuh. Dalam wawancara dengan ABC pada Minggu (6/9), ia mengatakan, “Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir.” Menurutnya, alternatifnya adalah menghancurkan kemampuan Iran untuk membuat dan meluncurkan senjata tersebut.

Dilansir dari The Guardian, Senin (7/9/2026), Wright mengatakan kesepakatan bahkan mungkin baru dapat dicapai setelah pergantian pemerintahan di Teheran. “Kesepakatan mungkin harus menunggu pemerintahan berikutnya di Iran,” ujarnya. Ia menyebut senjata nuklir Iran sebagai “ancaman eksistensial” yang dapat dihadapi melalui penghancuran kemampuan militernya.

Namun, Washington belum sepenuhnya menutup jalur diplomasi. Kepada CBS, Wright menegaskan, “Kami selalu terbuka untuk kesepakatan.” Pada saat yang sama, ia mengatakan peran terbesar militer AS di kawasan Teluk saat ini adalah menghentikan ekspor energi Iran. “Kami sedang mencekik perekonomian mereka untuk mendorong perubahan kebijakan dari rezim yang ada atau terbentuknya rezim baru,” katanya.

Tekanan tersebut beririsan langsung dengan keamanan energi global. Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan minyak dan gas menuju pasar dunia. Wright menolak memberikan jaminan bahwa kapal tanker dapat melintas dengan aman tanpa pengawalan Angkatan Laut AS. “Jika mereka ingin bekerja sama dengan Angkatan Laut Amerika Serikat, saya kira mereka bisa,” ujarnya kepada CNN.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa konflik Iran tidak lagi sekadar persoalan program nuklir, tetapi telah berkembang menjadi persoalan perdagangan dan pasokan energi internasional. Wright mengatakan kapal memang terus melintas, tetapi volumenya belum kembali ke tingkat sebelum konflik. “Kami mendapatkan banyak kapal yang berhasil melintas, tetapi tentu saja hal itu membutuhkan militer AS,” katanya.

Karena itu, keberadaan kapal perang AS di Hormuz berpotensi menjadi bagian dari normalitas baru kawasan. Ketika ditanya apakah kehadiran tersebut akan berlangsung tanpa batas, Wright menjawab, “Saat ini memang demikian, tetapi ke depan saya pikir negara-negara lain akan datang dan bekerja bersama kami.” Ia menambahkan, “Perdagangan dunia penting. Itu tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab Amerika Serikat.”

Kebuntuan diplomasi terjadi setelah kesepakatan sementara pada Juni untuk menghentikan operasi militer runtuh tanpa menghasilkan penyelesaian permanen mengenai perdamaian maupun masa depan program nuklir Iran. Serangan AS sebelumnya telah menyebabkan kerusakan besar terhadap fasilitas nuklir Iran, tetapi konflik kembali berlanjut dan upaya diplomatik belum menghasilkan terobosan.

Di tengah situasi tersebut, Wright menegaskan bahwa konflik masih berlangsung. “Kami masih berada dalam konflik, tentu saja,” katanya kepada CNN. Pernyataan itu muncul setelah Wakil Presiden AS JD Vance menolak menyebut situasi tersebut sebagai perang dan memilih istilah “konflik militer”, sementara Presiden Donald Trump membela penyebutan tersebut.

Ketidakpastian juga tercermin dari perkiraan mengenai durasi konflik. Senator AS John Kennedy ketika ditanya NBC apakah perang akan berakhir pada November menjawab, “Kemungkinan besar tidak.” Konflik telah melewati enam bulan pada akhir Agustus, sementara mantan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta memperingatkan bahwa perang dapat berlangsung jauh lebih lama.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore