
Massa pelayat berkumpul di Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada awal rangkaian upacara pemakaman di Teheran, 4 Juli 2026. / Foto: (The Guardian)
JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) diduga keliru memperkirakan kemampuan Iran bertahan dari gelombang serangan militer yang dilakukan bersama Israel. Alih-alih memaksa Teheran menerima kesepakatan sesuai keinginan Washington, strategi tersebut justru dinilai memperumit jalur diplomasi, memperdalam ketidakpercayaan, dan membuat peluang tercapainya perdamaian semakin kecil.
Penilaian itu disampaikan Presiden sekaligus CEO Center for the National Interest, Paul Saunders, yang menilai pemerintahan Presiden Donald Trump terlalu optimistis bahwa tekanan militer dapat dengan cepat melemahkan pemerintahan Iran.
"Saya pikir pemerintahan kemungkinan terlalu melebih-lebihkan betapa mudahnya menggunakan kekuatan militer untuk menghasilkan sebuah kesepakatan yang sukses," kata Saunders dalam wawancara di Washington DC.
Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam kebuntuan. Salah satu titik paling krusial adalah masa depan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Hingga kini, laporan mengenai kemungkinan dibukanya kembali jalur tersebut masih saling bertentangan.
Dilansir via Iran International, Saunders menilai keputusan AS dan Israel menargetkan jajaran pimpinan Iran justru mengubah arah konflik. Menurutnya, serangan tersebut bukan hanya meningkatkan eskalasi militer, tetapi juga membuat pemerintah Iran merasa eksistensinya terancam sehingga semakin sulit diajak berkompromi.
"Dari sudut pandang saya, akan lebih baik jika serangan terhadap kepemimpinan Iran tidak dilakukan," ujar Saunders.
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut memperbesar rasa saling tidak percaya antara kedua negara dan justru melemahkan posisi Washington saat kembali mencoba membuka ruang perundingan.
"Untuk mencapai sebuah kesepakatan, kita membutuhkan pemerintah yang bisa diajak bernegosiasi. Ketika pemerintah itu benar-benar rusak dan tidak stabil, apakah rezim baru nantinya cukup kuat untuk membuat konsesi kepada Amerika Serikat?" katanya.
Pernyataan itu berkaitan dengan Memorandum of Understanding (MoU) antara AS dan Iran yang ditandatangani pada Juni lalu. Dokumen berisi 14 poin tersebut dirancang sebagai kerangka sementara untuk menghentikan permusuhan, memulihkan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz, mengakhiri blokade angkatan laut AS, serta membuka jalan menuju perjanjian final dalam waktu 60 hari.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022