File yang disediakan oleh Angkatan Udara AS ini menunjukkan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) Angkatan Darat AS di Fort Bliss, Texas, pada 23 Februari 2019. (Sersan Cory D. Payne/AP).
JawaPos.com - Persediaan rudal pertahanan utama milik Amerika Serikat dilaporkan kian menyusut tajam setelah konflik dengan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kemampuan Washington menghadapi potensi eskalasi perang berikutnya, sekaligus menjaga komitmen pertahanan bagi sekutu-sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Laporan CNN pada Selasa (4/8) mengungkap, berdasarkan sumber yang mengetahui hasil penilaian inventaris terbaru, militer AS telah menghabiskan hampir 80 persen stok rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan sekitar 50 persen persediaan rudal Patriot sejak perang dengan Iran dimulai.
Menipisnya cadangan tersebut disebut menjadi perhatian serius di lingkungan Pentagon. Sejumlah komandan senior AS, menurut laporan itu, secara tertutup menggambarkan stok amunisi strategis negeri tersebut berada pada level yang sangat rendah.
Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran yang sebelumnya telah muncul mengenai ketersediaan rudal Patriot, yang selama ini menjadi tulang punggung sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya.
Berdasarkan estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebelum konflik pecah Amerika Serikat diperkirakan memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot varian terbaru dan 452 rudal THAAD. Angka itu menjadi acuan untuk mengukur besarnya penyusutan persediaan setelah operasi militer berlangsung.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Washington. Negara-negara Teluk yang mengoperasikan sistem pertahanan udara buatan AS dikabarkan mulai menyampaikan kekhawatiran bahwa berkurangnya stok rudal tersebut dapat mengurangi kemampuan mereka menghadapi ancaman rudal balistik maupun serangan pesawat nirawak (drone) Iran, terutama jika Teheran melancarkan aksi balasan terhadap operasi militer Amerika Serikat.
CNN juga melaporkan bahwa kondisi persediaan rudal menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan Presiden Donald Trump saat memutuskan membatalkan rencana serangan lanjutan terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Keputusan itu disebut diambil setelah sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk memperingatkan bahwa infrastruktur energi mereka berpotensi menjadi sasaran serangan balasan Iran apabila konflik kembali meningkat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022