Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Agustus 2026 | 18.02 WIB

Desa Makin Sepi, Beruang Makin Berani Masuk Permukiman, Jepang Beralih ke Kebijakan Depopulasi

Pakar satwa liar Koji Yamazaki memperlihatkan seekor beruang hitam yang telah dilumpuhkan selama kegiatan penelitian di Nikko, Prefektur Tochigi, pada 2024. (Dok. Koji Yamazaki/Kyodo) - Image

Pakar satwa liar Koji Yamazaki memperlihatkan seekor beruang hitam yang telah dilumpuhkan selama kegiatan penelitian di Nikko, Prefektur Tochigi, pada 2024. (Dok. Koji Yamazaki/Kyodo)

JawaPos.com - Pemerintah Jepang mengubah kebijakan pengelolaan beruang setelah rekor serangan terhadap manusia terjadi sepanjang tahun fiskal 2025. Dari semula berfokus pada perlindungan satwa liar, pemerintah kini mulai aktif mengurangi populasi beruang di sejumlah wilayah.

Seperti dilansir Kyodo, Sabtu (1/8), sepanjang tahun fiskal 2025 tercatat 238 orang diserang beruang di Jepang. Sebanyak 13 orang di antaranya meninggal dunia, menjadi angka tertinggi yang pernah tercatat.

Pemerintah menilai meningkatnya konflik antara manusia dan beruang tidak hanya dipicu pertumbuhan populasi satwa tersebut. Penyusutan penduduk di pedesaan serta semakin banyaknya lahan pertanian yang terbengkalai membuat hutan meluas hingga mendekati permukiman.

Kondisi itu menghilangkan zona penyangga yang selama ini memisahkan habitat beruang dengan kawasan tempat tinggal manusia. Akibatnya, pertemuan antara manusia dan beruang semakin sering terjadi.

Sebagai bagian dari kebijakan baru, pemerintah menetapkan beruang sebagai satwa yang populasinya perlu dikendalikan sejak 2024. Target pengurangan populasi kemudian disusun untuk tahun fiskal 2026 hingga 2030.

Di kawasan Tohoku, yang menjadi pusat populasi sekaligus lokasi terbanyak serangan, jumlah beruang ditargetkan turun menjadi sekitar 12.000 ekor pada 2030 dari perkiraan saat ini sebanyak 19.237 ekor. Sementara itu, target populasi di wilayah Chubu ditetapkan 11.000 ekor dan di Kanto, yang mencakup Tokyo, sekitar 2.000 ekor.

Pemerintah juga mulai melakukan sensus beruang secara nasional sejak Juni. Lebih dari 800 kamera akan dipasang di enam prefektur di Tohoku serta Prefektur Niigata untuk memperkirakan populasi beruang hitam secara lebih akurat.

Direktur Kantor Perlindungan dan Pengelolaan Satwa Liar Kementerian Lingkungan Jepang, Shinjiro Sasaki, mengatakan data populasi yang akurat sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian. Selama ini, setiap prefektur menggunakan metode survei yang berbeda sehingga hasilnya sulit dibandingkan.

Kamera dipasang sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah dengan umpan untuk merekam beruang yang berdiri menggunakan dua kaki. Melalui cara itu, petugas dapat mengenali setiap individu dari tanda putih berbentuk bulan sabit di bagian dadanya.

Laporan hasil sensus diperkirakan selesai sebelum akhir tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2027. Pemerintah berharap data tersebut menjadi dasar penentuan jumlah beruang yang perlu dikendalikan setiap tahun.

Editor: Dhimas Ginanjar
Sumber: Kyodo News
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore