
Elon Musk (kiri) dari SpaceX dan Jeff Bezos, pendiri Amazon, bersaing membangun infrastruktur teknologi generasi berikutnya / Foto: (Fortune)
JawaPos.com — Persaingan dua miliarder teknologi, Elon Musk dan Jeff Bezos, memasuki fase baru ketika SpaceX dan Amazon mulai berhadapan di berbagai sektor strategis teknologi. Keduanya tidak hanya membangun bisnis inti, tetapi memperluas kerajaan teknologi melalui internet satelit, kecerdasan buatan (AI), pusat data, komputasi awan, hingga infrastruktur digital global.
Perjalanan Amazon menjadi gambaran bagaimana perusahaan teknologi dapat bertransformasi menjadi konglomerasi raksasa. Pada 1997, Jeff Bezos membawa Amazon melantai di bursa dengan valuasi USD 438 juta atau sekitar Rp7,9 triliun dengan kurs Rp18.110 per dolar AS. Setelah sahamnya sempat anjlok 90 persen akibat pecahnya gelembung dot-com, Amazon berkembang menjadi perusahaan bernilai sekitar USD 2,6 triliun atau Rp47.086 triliun.
Sementara itu, SpaceX memasuki pasar publik dengan kisah yang mengingatkan investor pada fase awal Amazon. Perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut mengalami kerugian USD 4,9 miliar atau sekitar Rp88,7 triliun pada tahun sebelumnya, tetapi valuasinya melonjak hingga sekitar USD 2 triliun atau Rp36.220 triliun setelah penawaran saham perdana pada Juni 2026 dengan harga USD 135 per saham.
Kenaikan valuasi itu memicu perdebatan mengenai prospek SpaceX. Dilansir dari Fortune, Selasa (14/7/2026), analis Jim Lebenthal dari Cerity Partners mengatakan, “Anda pada dasarnya membeli SpaceX dengan valuasi seperti Amazon, ketika pendapatannya hanya seperdua puluh dari Amazon. SpaceX adalah perusahaan yang sangat keren dan luar biasa dalam segala hal yang mereka lakukan. Namun, saya juga berpikir valuasinya sangat berlebihan saat ini.”
Meski bergerak dari sektor berbeda, keduanya memiliki pola ekspansi yang serupa. Amazon membangun kekuatan melalui perdagangan daring dan Amazon Web Services (AWS), sedangkan SpaceX berkembang dari bisnis roket menuju Starlink serta infrastruktur AI. Persaingan mereka kini meluas ke konektivitas satelit, pusat data, dan teknologi komputasi.
Di sektor satelit, SpaceX masih unggul melalui Starlink yang menjadi aset paling bernilai perusahaan. Layanan internet satelit tersebut mencatat pendapatan USD 11,4 miliar atau sekitar Rp206,4 triliun tahun lalu, dengan 9.600 satelit aktif serta laba operasional USD 4,4 miliar. Sebaliknya, Amazon Leo baru memiliki sekitar 330 satelit, tetapi memperkuat ekspansinya melalui rencana akuisisi Globalstar senilai USD 11,6 miliar atau sekitar Rp210 triliun.
Namun, keunggulan Amazon terlihat jelas dalam bisnis komputasi awan. AWS membukukan pendapatan USD 128,7 miliar atau sekitar Rp2.331 triliun pada 2025 dengan laba operasional USD 45,6 miliar. Sementara itu, bisnis AI SpaceX masih berada dalam tahap pengembangan dengan pendapatan USD 3,2 miliar, tetapi mencatat kerugian operasional USD 6,4 miliar.
Karena itu, analis Dan Niles dari Niles Investment Management menilai kedua perusahaan belum berada pada level yang sama. “Saya tidak melihat mereka sebagai perusahaan yang serupa sama sekali,” ujarnya. Menurut Niles, kemampuan komputasi SpaceX saat ini lebih mendekati perusahaan seperti CoreWeave atau Nebius dibandingkan AWS milik Amazon.
Pandangan tersebut juga diperkuat Justin Menne dari Harbor Capital yang menilai valuasi SpaceX sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap kemampuan Musk menjalankan rencana ambisiusnya. “Untuk percaya bahwa nilai perusahaan secara keseluruhan masuk akal, Anda pada dasarnya memberikan banyak kredibilitas kepada tim manajemen dan tim teknik untuk benar-benar mewujudkannya,” ujarnya.
Meski demikian, faktor Musk tetap menjadi daya tarik utama SpaceX. Musk menargetkan pendapatan perusahaan mencapai USD 1 triliun pada 2030, sementara estimasi pendapatan 2026 masih sekitar USD 40 miliar. Lebenthal mengingatkan besarnya tantangan tersebut. “Anda tidak bisa begitu saja mengatakan itu dan berharap tambahan pendapatan USD 960 miliar akan muncul,” ujarnya.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 Menit
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Kompak Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina hingga Shell
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Daftar Pemain Cedera Prancis vs Spanyol di Piala Dunia 2026: Les Bleus Terancam Krisis Lini Tengah!
MA Kekurangan 1.600 Hakim, Lulusan Fakultas Hukum Ditawari Gaji Rp 50 Juta Per Bulan
Prediksi Skor Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: Lionel Messi Cs Dijagokan Singkirkan Three Lions dan Lolos ke Final
