Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 April 2026 | 21.49 WIB

Iran Olok-olok Strategi AS Lanjutkan Blokade Maritim di Selat Hormuz: Perpanjang Saja Sampai 30 Hari

Ilustrasi kapal di Selat Hormuz. (Hum English) - Image

Ilustrasi kapal di Selat Hormuz. (Hum English)

JawaPos.com - Iran secara terbuka mengejek langkah Amerika Serikat (AS) yang melanjutkan blokade maritim di Selat Hormuz. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan tersebut yang dinilai tidak efektif bahkan berdampak sebaliknya.

Melalui unggahan berbahasa Inggris di platform X, Ghalibaf menyindir strategi blokade minyak yang diterapkan pemerintahan Donald Trump. Ia menyoroti bahwa setelah tiga hari pemberlakuan, tidak ada satu pun sumur minyak Iran yang 'meledak' akibat tekanan berlebih seperti yang diprediksi pihak AS.

“Kalau mau, perpanjang saja blokadenya sampai 30 hari. Kami bahkan bisa siaran langsung untuk membuktikan semuanya baik-baik saja,” tulis Ghalibaf dengan nada sarkastik.

Blokade AS dan Dampaknya

Blokade yang dilakukan militer AS bertujuan menahan ekspor minyak Iran agar tetap berada di dalam negeri. Strategi ini dimaksudkan untuk memaksa Teheran memilih antara memangkas produksi, yang berarti kehilangan pendapatan, atau menghadapi risiko kerusakan infrastruktur akibat tekanan berlebih pada pipa dan reservoir.

Namun, menurut Ghalibaf, kebijakan tersebut justru menjadi bumerang. Ia menyebut 'saran sampah' dari pejabat AS, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent, sebagai pemicu lonjakan harga minyak global.

Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar enam persen menjadi USD 118 per barel dalam perdagangan pagi di Tokyo, Kamis (30/4). Bahkan, Ghalibaf memperkirakan harga bisa menembus USD 140 sebagai 'pemberhentian berikutnya'.

Menurutnya, alih-alih melumpuhkan Iran, kebijakan tersebut justru membebani ekonomi Amerika dan masyarakatnya, terutama melalui kenaikan harga bahan bakar.

Ghalibaf juga menilai kegagalan kebijakan ini bukan terletak pada konsep blokade itu sendiri, melainkan pada cara pandang Washington yang dianggap meremehkan ketahanan Iran.

Ia menegaskan bahwa tekanan ekonomi seperti sanksi dan blokade sering kali menimbulkan konsekuensi tak terduga, termasuk lonjakan biaya energi global yang pada akhirnya merugikan banyak pihak.

Meski demikian, Teheran diguncang isu keretakan di tengah konflik yang terus berkembang, muncul laporan adanya ketegangan internal di Iran. Sejumlah pejabat sipil, termasuk Ghalibaf, disebut mulai tersisih oleh figur militer seperti Ahmad Vahidi, yang kini memiliki pengaruh lebih besar dalam pengambilan keputusan strategis.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore