
Toshihiro Mibe, Chief Executive Officer Honda Motor Co. Foto: (The Cool Down)
JawaPos.com — Pernyataan mengejutkan datang dari CEO Toshihiro Mibe yang secara terbuka mengakui ketertinggalan perusahaannya dalam persaingan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global, khususnya terhadap produsen otomotif asal Tiongkok. Pengakuan ini mencerminkan pergeseran besar dalam industri otomotif dunia yang kini bergerak cepat menuju elektrifikasi dan otomatisasi produksi.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah kunjungan Mibe pada Februari lalu ke sebuah pabrik kendaraan listrik di Tiongkok yang beroperasi dengan efisiensi tinggi. Seperti dilaporkan SlashGear, pengalaman tersebut menjadi titik balik kesadaran bagi Honda mengenai skala ketertinggalan mereka dalam hal teknologi manufaktur dan rantai pasok.
Mengutip The Cool Down, Senin (27/4/2026), CEO Toshihiro Mibe mengungkapkan keterkejutannya terhadap tingkat otomatisasi yang dia saksikan dengan menyatakan, “Kami tidak punya peluang untuk melawan ini. Mulai dari pengadaan suku cadang hingga manajemen logistik, semuanya di fasilitas tersebut sudah otomatis, dan tidak ada manusia di lantai produksi.”
Di sisi lain, tekanan terhadap Honda tidak hanya datang dari kemajuan Tiongkok, tetapi juga dari perubahan kebijakan di Amerika Serikat (AS). Pada pertengahan 2025, pemerintah AS secara tiba-tiba menghapus insentif pajak kendaraan listrik yang selama ini menjadi pendorong utama adopsi EV. Kebijakan ini memaksa produsen otomotif global, termasuk Honda, untuk melakukan penyesuaian strategi secara mendadak.
Dampaknya signifikan. Produsen besar seperti Ford Motor Company dan General Motors dilaporkan mengalami kerugian hingga miliaran dolar AS. Sementara itu, Honda mencatat kerugian lebih dari 15,7 miliar dolar AS, setara sekitar Rp 270,7 triliun (dengan kurs Rp 17.240 per dolar AS). Ini menjadi tekanan finansial terbesar dalam sejarah modern perusahaan tersebut.
Namun, Mibe sebelumnya juga mengakui bahwa perubahan kebijakan di AS kemungkinan memperlambat transisi global dari mesin pembakaran internal menuju kendaraan listrik. Meski begitu, dia menegaskan bahwa Honda tetap memiliki tanggung jawab moral untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi kenaikan suhu global dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Sejalan dengan itu, Honda mengumumkan kerugian tahunan pertamanya pada awal Maret, tak lama setelah kunjungan Toshihiro Mibe ke fasilitas EV di Tiongkok. Kecepatan produksi dan efisiensi operasional yang dia temui di lapangan menegaskan kesenjangan daya saing yang kini melebar antara produsen otomotif Tiongkok dan pemain Barat.
Tekanan tersebut merupakan akumulasi dari dinamika global yang lebih luas—mulai dari disrupsi rantai pasok, percepatan inovasi teknologi, hingga kebijakan energi yang tidak konsisten di pasar utama seperti Amerika Serikat. Dalam konteks ini, produsen Tiongkok mampu bergerak lebih agresif dengan integrasi teknologi dan skala produksi yang jauh lebih efisien.
Di sisi lain, keterlambatan transisi di pasar Barat semakin mempertegas risiko kehilangan momentum dalam perlombaan kendaraan listrik. Ketika Tiongkok mempercepat otomatisasi dan efisiensi, produsen Barat justru masih bergulat dengan ketidakpastian regulasi dan tekanan biaya yang tinggi.
Pada akhirnya, dinamika ini menegaskan bahwa persaingan global dalam industri kendaraan listrik tidak lagi sekadar soal inovasi produk, melainkan juga efisiensi produksi, stabilitas kebijakan, dan keberanian berinvestasi dalam teknologi masa depan. Dalam konteks ini, pernyataan Mibe menjadi sinyal keras bahwa peta kekuatan industri otomotif global tengah bergeser secara struktural, bukan sekadar fluktuasi jangka pendek.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
