Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 April 2026 | 17.54 WIB

Iran Buka Jalur Selat Hormuz Dua Minggu Jika Serangan AS dan Israel Dihentikan

Selat Hormuz tetap tertutup, seluruh Teluk Persia wilayah kami. (CNA) - Image

Selat Hormuz tetap tertutup, seluruh Teluk Persia wilayah kami. (CNA)

JawaPos.com — Iran akan membuka jalur pelayaran Selat Hormuz selama dua minggu. Syaratnya, serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel harus dihentikan. 

Langkah ini muncul bersamaan dengan gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan. Keputusan ini menjadi jeda penting dalam konflik yang telah memasuki minggu keenam dan berdampak pada pasokan energi global serta keamanan regional.

Dilansir dari CNA, Rabu (8/4), pemerintah Iran menyatakan bahwa selama periode dua minggu tersebut, lalu lintas maritim akan dibuka dan dapat melewati Selat Hormuz “dengan koordinasi bersama Angkatan Bersenjata Iran dan dengan memperhatikan keterbatasan teknis.”

Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam unggahan di media sosial platform X, menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata dan akan dimanfaatkan sebagai waktu untuk pembicaraan lebih lanjut dengan Amerika Serikat

Kesepakatan dua minggu ini dipicu oleh pengumuman Presiden AS, Donald Trump, yang mengatakan telah setuju untuk menghentikan operasi militer terhadap Iran untuk jangka waktu dua minggu. Keputusan itu datang hanya kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang Trump tetapkan bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia. Trump menyebut kesepakatan ini sebagai gencatan senjata “dua sisi”. 

Langkah Trump tersebut juga mendapat dukungan dari sekutu utama, termasuk Israel, yang menurut pejabat Gedung Putih setuju untuk menghentikan kampanye pengebomannya terhadap Iran dan sekitarnya selama periode gencatan senjata. Namun, militer Israel kemudian melaporkan bahwa mereka mengidentifikasi peluncuran rudal dari wilayah Iran menuju Israel beberapa menit setelah pengumuman itu. 

Kesepakatan sementara ini merupakan titik balik dramatis dalam beberapa hari penuh ketegangan. Sebelumnya, Trump mengeluarkan ancaman keras di media sosial bahwa “sebuah peradaban akan binasa malam ini” jika tuntutan AS tidak dipenuhi, sebuah pernyataan yang mengejutkan pemimpin dunia dan memicu kecaman luas, termasuk dari Organisasi Perserikatan Bangsa‑Bangsa. 

Perdamaian sementara ini dimediasi oleh Pakistan, yang memainkan peran sentral dalam mempertemukan kedua pihak menjelang pengumuman. Trump mengatakan bahwa kesepakatan ini dicapai melalui percakapan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Jenderal Asim Munir. Iran menyerahkan proposal 10 poin yang disebut Trump sebagai basis yang layak bagi negosiasi dan bahwa kesepakatan akhir diperkirakan akan “difinalisasi” selama jeda dua minggu ini. 

Di pihak Iran, persetujuan untuk gencatan senjata mencerminkan tuntutan negara itu bahwa perang tidak akan berhenti kecuali ada jaminan atas pengakuan kontrol Iran terhadap Selat Hormuz dan program pengayaan uraniumnya, serta pencabutan sanksi ekonomi yang berat. Iran sebelumnya menolak jeda sementara tanpa kondisi yang lebih permanen, tetapi kini bersedia menjadikan penghentian serangan sebagai prasyarat gencatan senjata. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore