Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Maret 2026 | 03.32 WIB

Pengamat Menilai Selat Hormuz Tidak Aman Dilalui selama Perang Iran melawan AS-Israel masih Berlangsung

Ilustrasi Selat Hormuz, yang memainkan peran penting dalam perang di Timur Tengah antara Iran melawan AS-Israel. (Naeblys-stock.adobe.co via Iloydslist) - Image

Ilustrasi Selat Hormuz, yang memainkan peran penting dalam perang di Timur Tengah antara Iran melawan AS-Israel. (Naeblys-stock.adobe.co via Iloydslist)

 

JawaPos.com-Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai Selat Hormuz tidak akan aman dilalui selama perang antara Iran dan AS-Israel masih berlangsung.

"Selama perang Iran melawan Amerika dan Israel terus berlangsung, maka Selat Hormuz tidak aman untuk dilewati," kata Faisal seperti dilansir dari Antara, Rabu (11/3).

Ia menjelaskan Iran telah menyatakan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan negara dengan menolak gagasan gencatan senjata dan memilih melanjutkan perang hingga pihak yang disebut Iran sebagai agresor diberi "pelajaran".

"Iran sudah menyaratkan negara-negara memiliki hubungan diplomatik dengan Amerika dan Israel untuk mengusir duta besar kedua negara itu dari negara mereka [Iran]," kata Faisal, menambahkan.

Eskalasi konflik di kawasan tersebut turut berdampak pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang setiap hari dilalui kapal-kapal pengangkut sekitar 20 juta barel minyak. Sejumlah kapal kargo yang tetap melintas dilaporkan terkena hantaman proyektil yang tidak diketahui asalnya.

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran juga menegaskan akan menghentikan armada AS dan sekutunya jika melintasi Selat Hormuz, termasuk untuk pengawalan, dengan menggunakan rudal dan kapal selam.

Faisal menambahkan gangguan keamanan di Selat Hormuz menyebabkan aktivitas pelayaran merosot hingga sekitar 90 persen, yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. "Saat ini, saban hari hanya dua hingga tiga kapal melintasi Selat Hormuz, dibandingkan pada kondisi normal yang mencapai sekitar seratus kapal," katanya.

Gangguan lalu lintas maritim di Selat Hormuz baru-baru ini memicu kekhawatiran akan potensi efek domino terhadap pasar energi, transportasi laut, dan rantai pasokan global, kata Badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) pada Selasa.

Dalam laporan analisisnya, UNCTAD menyebutkan eskalasi militer di kawasan tersebut telah mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang menampung sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui laut serta volume signifikan gas alam cair dan pupuk.

Laporan itu juga mencatat pasar minyak bereaksi cepat terhadap gangguan tersebut. Harga minyak mentah Brent melonjak di atas 90 dolar AS per barel sesaat setelah kejadian. (*)

 

 

 

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore