
Sam Altman, CEO OpenAI. Foto: (Al Jazeera)
JawaPos.com — Lonjakan investasi global pada sektor kecerdasan buatan (AI) yang selama ini mendorong valuasi perusahaan teknologi ke tingkat fantastis mulai menghadapi ujian baru. Salah satu yang kini menjadi sorotan adalah OpenAI, perusahaan pengembang ChatGPT yang selama beberapa tahun terakhir menjadi magnet investasi dari raksasa teknologi dunia seperti Nvidia dan Microsoft.
Sejak ledakan popularitas teknologi AI generatif, OpenAI berhasil mengumpulkan dana lebih dari 168 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.837 triliun (kurs Rp 16.890 per dolar AS). Namun hingga kini perusahaan yang dipimpin Sam Altman itu masih belum memiliki model bisnis yang benar-benar terbukti menghasilkan keuntungan, sementara kebutuhan pendanaan untuk membangun infrastruktur komputasi terus meningkat.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026), sejumlah analis mulai mempertanyakan arah masa depan perusahaan tersebut di tengah kebutuhan finansial yang melonjak. Keraguan juga muncul dari investor besar yang selama ini menjadi tulang punggung pendanaan OpenAI.
CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan perusahaan masih akan menanamkan investasi besar, namun memberi sinyal bahwa dukungan tersebut tidak akan berlangsung tanpa batas. “Kami akan menginvestasikan 30 miliar dolar AS lagi ke OpenAI, tetapi ini mungkin terakhir kalinya sampai perusahaan itu melantai di bursa saham,” ujarnya. Huang juga menambahkan bahwa rencana investasi infrastruktur sebesar 100 miliar dolar AS yang sebelumnya dibahas “tidak ada dalam rencana saat ini”.
Meski demikian, nilai investasi tersebut tetap tergolong sangat besar. Aleksandar Tomic, Wakil Dekan bidang strategi, inovasi, dan teknologi di Boston College, mengatakan langkah Nvidia tetap berisiko. “Tiga puluh miliar dolar AS itu sekitar seperdelapan dari pendapatan tahunan Nvidia. Itu juga sekitar 50 persen dari pendapatan kuartalan mereka yang baru saja diumumkan. Jumlahnya sangat signifikan,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Ironisnya, keraguan investor muncul justru ketika kinerja Nvidia sedang sangat kuat. Pendapatan kuartal keempat perusahaan itu mencapai lebih dari 68 miliar dolar AS, meningkat 73 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun saham Nvidia tetap turun lebih dari 9 persen pada pekan tersebut karena kekhawatiran bahwa investasi besar di perusahaan AI seperti OpenAI belum tentu menghasilkan keuntungan jangka panjang.
Menurut Tomic, persoalan utama industri AI saat ini adalah ketidakjelasan cara menghasilkan pendapatan yang stabil. “Saya tidak yakin ada yang benar-benar tahu bagaimana menilai nilai ekonomi dari industri AI saat ini. Kita masih menunggu bagaimana perusahaan-perusahaan ini menghasilkan uang dari produk mereka,” katanya. Dia menambahkan, “Potensinya memang sangat besar, tetapi situasinya mirip dengan internet pada akhir 1990-an—janji besar sudah terlihat, tetapi model bisnisnya belum terbentuk sepenuhnya.”
Tekanan finansial terhadap OpenAI juga sangat besar. Lembaga keuangan HSBC sebelumnya memperkirakan kebutuhan komputasi perusahaan tersebut dapat mencapai 1,4 triliun dolar AS pada 2033. Namun OpenAI kemudian menyatakan bahwa kebutuhan sebenarnya kemungkinan lebih mendekati 600 miliar dolar AS pada 2030. Meski demikian, para analis menilai biaya penyewaan ruang pusat data saja diperkirakan bisa mencapai 620 miliar dolar AS.
Di tengah proyeksi kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, analis pasar George Noble menilai target pertumbuhan OpenAI sangat agresif. “OpenAI harus menghasilkan 200 miliar dolar AS pendapatan tahunan pada 2030 untuk membenarkan proyeksi mereka. Itu berarti pertumbuhan 15 kali lipat dalam lima tahun, sementara biaya terus melonjak,” tulisnya. Dia menambahkan, “Imbal hasil yang semakin menurun mulai sulit disembunyikan. Para pesaing mengejar ketertinggalan dan gugatan hukum juga semakin banyak.”
Di tengah situasi tersebut, sebagian pengamat bahkan mulai memperingatkan potensi gelembung investasi. Peneliti senior Council on Foreign Relations Sebastian Mallaby menilai masalahnya bukan pada teknologi AI secara keseluruhan, melainkan pada struktur bisnis OpenAI sendiri. “OpenAI tidak memiliki banyak produk cadangan jika strategi utamanya gagal,” katanya.
Meski demikian, sebagian investor tetap mempertahankan taruhan mereka pada revolusi AI. Tomic menilai ada faktor psikologis yang kuat dalam keputusan investasi tersebut. “Saya kira satu-satunya hal yang lebih buruk daripada kehilangan uang dengan OpenAI adalah tertinggal sepenuhnya dari revolusi teknologi ini,” ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
