Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara dalam pertemuan di Teheran, Iran, 1 Februari 2026.
JawaPos.com - Kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang struktur kekuasaan di Teheran. Di tengah meningkatnya ketegangan regional dan ancaman serangan lanjutan, elite Republik Islam kini berpacu dengan waktu untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya.
Serangan yang menewaskan Khamenei juga dilaporkan merenggut sejumlah tokoh penting di lingkaran dalam kekuasaan, termasuk penasihat keamanan senior dan komandan Garda Revolusi. Situasi ini memperumit proses transisi, karena Iran bukan hanya kehilangan figur sentral, tetapi juga beberapa pilar strategis dalam struktur pertahanan dan politiknya.
Di saat yang sama, Teheran membalas dengan menargetkan sejumlah titik di kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump memperingatkan agar Iran tidak melakukan eskalasi lebih jauh dan mengisyaratkan bahwa tekanan militer bisa berlanjut. Ketegangan ini menambah urgensi proses suksesi di dalam negeri.
Khamenei sendiri memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi otoritas tertinggi dalam sistem politik berbasis velayat-e faqih, konsep yang menempatkan ulama sebagai pemegang otoritas tertinggi negara.
Bagaimana Pemimpin Tertinggi Iran Dipilih?
Menurut konstitusi Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Assembly of Experts, lembaga beranggotakan 88 ulama yang dipilih rakyat setiap delapan tahun. Namun, kandidat anggota lembaga ini harus terlebih dahulu lolos verifikasi oleh Guardian Council, badan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh pemimpin tertinggi.
Jika posisi pemimpin tertinggi kosong karena wafat atau mengundurkan diri, Majelis Ahli akan bersidang untuk memilih pengganti dengan suara mayoritas sederhana. Kandidat yang dipilih harus seorang ahli fikih Syiah tingkat tinggi, memiliki kapasitas kepemimpinan politik, keberanian, serta kemampuan administratif.
Sepanjang sejarah Republik Islam, baru satu kali terjadi transisi kepemimpinan di level ini, yakni pada 1989 ketika Khomeini wafat dan digantikan oleh Khamenei.
Siapa Mengisi Kekosongan Sementara?
Merujuk Pasal 111 Konstitusi Iran, sebagaimana mengutip Al-Jazeera, kekuasaan sementara dijalankan oleh dewan transisi beranggotakan tiga orang hingga pemimpin definitif terpilih. Dewan ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, serta satu ulama dari Guardian Council.
Ulama yang ditunjuk untuk melengkapi dewan tersebut adalah Alireza Arafi, tokoh berpengaruh di pusat pendidikan keagamaan Qom. Ia juga menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli, lembaga yang akan menentukan pemimpin tertinggi berikutnya.
Proses transisi ini disebut telah dipersiapkan sebelumnya. Sejumlah analis menilai struktur komando Iran tetap berjalan meski figur puncaknya gugur, karena sistem telah dirancang untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Daftar Kandidat Pengganti Khamenei
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
