
Ilustrasi Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menghadiri sesi pembahasan dalam rangkaian pertemuan terkait G20 (Dok. Reuters)
JawaPos.com - Pertemuan para pemimpin G20 di Johannesburg tahun ini berlangsung dalam situasi yang tidak biasa, terutama setelah Amerika Serikat memutuskan untuk tidak hadir. Namun, absennya Washington tidak membuat KTT kehilangan arah. Justru, Afrika Selatan memanfaatkan momentum ini untuk menegaskan perannya dalam memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang.
Menurut laporan The Guardian, Presiden Cyril Ramaphosa menutup KTT dengan langkah diplomatik yang cukup berani. Ia menolak permintaan AS yang ingin menyerahkan proses serah terima kepemimpinan G20 melalui pejabat tingkat rendah, sebuah permintaan yang dianggap tidak selaras dengan protokol resmi. Sikap Ramaphosa ini dinilai sebagai upaya menjaga posisi Afrika Selatan sebagai tuan rumah yang setara di forum global.
Sementara itu, dilansir dari Investing, para pemimpin G20 tetap berhasil mencapai kesepakatan untuk mengeluarkan deklarasi bersama meski AS memilih untuk tidak terlibat. Deklarasi itu mencakup isu-isu mendesak, mulai dari transisi energi hingga kebutuhan negara-negara berpendapatan rendah yang masih terbebani hutang besar. Langkah ini dianggap mencerminkan kemampuan Afrika Selatan menggalang konsensus di tengah dinamika geopolitik yang tidak mudah.
Baca Juga: Di KTT G20 Afrika Selatan, Wapres Gibran Sebut Program MBG sebagai Model Investasi Strategis
Dalam laporan Al Jazeera, fokus Afrika Selatan selama memimpin G20 adalah memastikan suara negara-negara Global South tidak tersisih. Ramaphosa menyoroti pentingnya tata kelola global yang lebih adil, termasuk persoalan mineral penting yang saat ini menjadi tulang punggung banyak industri strategis. Ia juga menempatkan konflik di Palestina, Ukraina, dan Sudan sebagai isu kemanusiaan yang perlu perhatian mendesak dari negara-negara besar.
Di sisi lain, pemerintah Afrika Selatan juga mendorong pembahasan mengenai jurang ketimpangan global. Dilaporkan oleh Reuters, pemerintah membentuk sebuah gugus tugas yang dipimpin ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, untuk mengkaji distribusi kekayaan dunia. Gugus tugas ini mengusulkan pembentukan panel internasional khusus yang mampu memberikan kajian ilmiah tentang ketimpangan, mirip dengan mekanisme panel perubahan iklim.
Sektor bisnis pun tidak tinggal diam. Dalam dokumen resmi yang dirilis oleh B20 Afrika Selatan, terdapat 30 rekomendasi yang disusun untuk mendukung agenda G20. Rekomendasi ini menyoroti kebutuhan investasi untuk infrastruktur, transformasi digital, ketahanan pangan, hingga strategi industrialisasi berbasis sumber daya mineral agar negara berkembang tidak terus terjebak sebagai pemasok bahan mentah.
Walaupun ketidakhadiran Amerika Serikat sempat menciptakan keraguan mengenai efektivitas forum ini, Afrika Selatan dinilai berhasil menjaga fokus pembahasan dan memastikan KTT tetap menghasilkan keputusan yang berarti. Sejumlah pengamat internasional memandang KTT G20 tahun ini sebagai titik penting bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat posisi mereka dalam struktur tata kelola global.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
