Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Oktober 2025 | 21.37 WIB

Babak Baru Perang Dagang AS–Tiongkok: Ekspor Tiongkok Melonjak, Trump Ancam Embargo Minyak Goreng

Aktivitas pompa angguk di ladang minyak menunjukkan dinamika pasar energi global yang turut terimbas oleh ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok.

JawaPos.com — Ketegangan ekonomi antara Tiongkok dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah data perdagangan terbaru menunjukkan kebangkitan ekspor Negeri Tirai Bambu yang melampaui ekspektasi pasar. 

Di tengah momentum itu, Washington justru bersiap melancarkan langkah balasan baru, menandai babak lanjutan dari perang dagang yang telah mengguncang rantai pasok global.

Melansir Reuters, Rabu (15/10), menurut data resmi bea cukai Tiongkok, ekspor pada September 2025 tumbuh 8,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, melebihi proyeksi kenaikan 7,1 persen. Impor juga naik 7,4 persen, menandai laju tercepat sejak April 2024 dan jauh di atas perkiraan 1,5 persen. 

Kendati ekspor secara keseluruhan meningkat, hubungan dagang dengan Amerika Serikat justru merosot tajam. Ekspor Tiongkok ke pasar Amerika turun 27 persen secara tahunan, sementara impor dari Amerika menurun 16 persen. 

Akibatnya, surplus perdagangan Tiongkok terhadap Amerika dalam sembilan bulan pertama 2025 menyusut menjadi 208,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3.460 triliun (kurs Rp 16.590 per dolar AS), dari 258 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagian pelemahan itu tertutupi oleh lonjakan perdagangan Tiongkok dengan kawasan lain. Ekspor ke ASEAN tumbuh 15,6 persen, ke Uni Eropa naik 10,4 persen, dan ke Afrika melonjak hingga 56,4 persen. Para analis menilai, pola ini mencerminkan upaya Beijing memperluas orientasi pasar sebagai strategi mengurangi ketergantungan pada Amerika.

Namun, ekspor mineral tanah jarang—komponen penting bagi industri teknologi tinggi—turun sekitar 30 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 4.000 ton. Kebijakan pengendalian ekspor yang lebih ketat menunjukkan sikap defensif Beijing dalam mempertahankan kendali atas rantai pasok material strategis yang dibutuhkan oleh produsen chip global.

Di tengah dinamika tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman baru yang memanaskan suasana. Melalui unggahan di platform Truth Social, dia menyatakan akan “mempertimbangkan penghentian bisnis dengan Tiongkok yang berkaitan dengan minyak goreng,” sebagai bentuk pembalasan atas sikap Beijing yang enggan membeli kedelai dari petani Amerika. 

CNBC melaporkan, dalam unggahan tersebut Trump menulis, “Tiongkok melakukan tindakan ekonomi yang bersifat permusuhan dengan sengaja tidak membeli kedelai kami dan menyulitkan para petani di Amerika.”

Langkah itu menambah ketidakpastian di pasar global, terutama karena Tiongkok merupakan pembeli utama kedelai Amerika senilai hampir 12,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 212,5 triliun pada 2024. Sejak Mei lalu, Beijing belum membeli satu pun kedelai dari Amerika akibat tarif timbal balik yang membuat harga impor menjadi mahal.

Beberapa analis memperingatkan potensi eskalasi jika kedua negara gagal menahan diri. Ekonom Tiongkok dari Danske Bank, Allan von Mehren, menilai peluang untuk meredakan ketegangan dagang masih terbuka menjelang rencana pertemuan Presiden Xi Jinping dan Donald Trump akhir bulan ini. “Kemungkinan tercapainya kesepakatan moderat masih lebih dari 50 persen,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Bea Cukai Tiongkok, Wang Jun, mengakui bahwa menjaga stabilitas perdagangan pada kuartal terakhir tahun ini akan menjadi tantangan besar di tengah kondisi eksternal yang semakin rumit. Dia menegaskan, “Tekanan dari faktor global masih tinggi, tetapi kami akan terus memperkuat kerja sama dengan mitra non-Amerika untuk menjaga keseimbangan perdagangan.”

Dengan perkembangan ini, perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia kian meluas dari sekadar isu tarif menjadi pertarungan geopolitik yang melibatkan kendali teknologi, komoditas strategis, dan pengaruh diplomatik. Dunia kini menanti apakah Washington dan Beijing akan kembali ke jalur dialog, atau justru membuka babak baru konfrontasi ekonomi yang lebih tajam.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore