Seorang perempuan mengenakan cheongsam biru klasik, simbol keanggunan dan sejarah panjang busana tradisional Tiongkok
JawaPos.com - Di tengah arus mode modern yang terus berubah, cheongsam atau qipao kembali muncul sebagai simbol keanggunan Tiongkok yang mendunia. Gaun ramping dengan kerah tinggi dan potongan halus ini, yang pernah menjadi ikon perempuan Shanghai di era 1930-an, kini tampil kembali di berbagai panggung fesyen dunia dengan sentuhan baru yang menawan.
Dilansir dari Vogue, desainer Huishan Zhang membawa napas baru bagi warisan busana tersebut melalui koleksi Resort 2025 yang memadukan keanggunan klasik dan elemen kontemporer.
Dalam peragaan yang digelar di London, Zhang menampilkan deretan gaun qipao dengan potongan ramping dan detail bordir lembut, namun menggunakan bahan modern seperti neoprene dan sifon ringan. Inspirasi koleksi ini datang dari sosok Madame Song, ikon sosialita Tiongkok yang memperkenalkan estetika Eropa ke dalam budaya mode Asia pada abad ke-20.
Zhang ingin menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan bukan dengan membekukan masa lalu, melainkan dengan menghidupkannya kembali melalui inovasi yang relevan dengan zaman.
Sementara di Tiongkok, gaung kebangkitan qipao terasa kuat dalam Beijing Fashion Week 2025. Menurut laporan CGTN, ajang tersebut mengusung tema 'New Wave, New Power' yang menonjolkan reinterpretasi busana tradisional. Para desainer muda menampilkan qipao dengan warna berani, potongan asimetris, dan sentuhan modern seperti resleting tersembunyi serta bahan ramah lingkungan. Busana yang dulu dianggap formal kini tampil lebih fleksibel dan kasual, menunjukkan transformasi budaya fesyen Tiongkok di era global.
Qipao berakar dari pakaian tradisional Dinasti Qing yang awalnya dikenakan oleh pria dan wanita bangsawan. Namun pada awal abad ke-20, bentuknya berubah menjadi simbol kebebasan dan keanggunan perempuan urban di Shanghai. Kini, evolusi qipao menandai upaya untuk mempertahankan identitas budaya di tengah gempuran mode cepat (fast fashion) yang seragam dan global.
Kebangkitan minat terhadap busana tradisional juga tidak hanya terlihat pada qipao. Seperti dilaporkan oleh South China Morning Post, pakaian hanfu yang berasal dari masa Dinasti Han mengalami kebangkitan luar biasa di kalangan anak muda Tiongkok. Banyak generasi muda yang mengenakan hanfu dalam kegiatan sehari-hari atau mengunggah foto mengenakannya di media sosial seperti Douyin dan Instagram. Fenomena ini mencerminkan keinginan untuk menegaskan identitas budaya serta kebanggaan terhadap akar sejarah mereka.
Dalam laporan yang sama, SCMP mencatat bahwa komunitas pecinta hanfu kini tumbuh pesat, tidak hanya di China tetapi juga di luar negeri. Beberapa influencer bahkan mengenakan hanfu di landmark dunia seperti Menara Eiffel dan Colosseum sebagai bentuk promosi budaya Tiongkok ke dunia internasional. Bagi banyak orang muda, hanfu dan qipao bukan sekadar pakaian, melainkan simbol keterhubungan emosional dengan masa lalu yang ingin mereka bawa ke masa depan.
Kisah serupa juga hadir di Amerika Serikat melalui sosok Heather Guo, seorang mahasiswa dan desainer muda yang memperkenalkan cheongsam ke dunia Barat. Seperti dilansir dari NYU News, Guo memiliki koleksi lebih dari 200 cheongsam vintage yang ia kurasi dan jual di butiknya di New York.
Bagi Guo, setiap potong cheongsam memiliki cerita tersendiri tentang perempuan Tionghoa yang hidup di berbagai zaman. Ia menyebut busana tersebut sebagai "jejak sejarah yang bisa dikenakan."
Dalam wawancaranya, Guo menjelaskan bahwa cheongsam awalnya terinspirasi dari pakaian pria changshan, namun diubah oleh perempuan sebagai bentuk ekspresi kebebasan di era 1920-an. Potongan ramping dan belahan di sisi gaun melambangkan keberanian perempuan Tionghoa untuk menampilkan jati diri mereka.
"Cheongsam bukan hanya pakaian, melainkan pernyataan budaya dan keindahan yang melewati batas waktu," ujar Guo.
Kehadiran desainer seperti Huishan Zhang di panggung global dan tokoh muda seperti Heather Guo di diaspora Tiongkok memperlihatkan bagaimana busana tradisional kini menjadi medium dialog budaya.
Tren "new Chinese chic" terus tumbuh, menyatukan warisan sejarah dengan estetika modern. Cheongsam kini tidak hanya dipakai saat perayaan tradisional, tetapi juga dalam keseharian, bahkan di red carpet internasional.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
