Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Oktober 2025 | 23.52 WIB

Cheongsam Bangkit Kembali: Ketika Busana Tradisional Tiongkok Menjadi Gaya Global

Seorang perempuan mengenakan cheongsam biru klasik, simbol keanggunan dan sejarah panjang busana tradisional Tiongkok

JawaPos.com - Di tengah arus mode modern yang terus berubah, cheongsam atau qipao kembali muncul sebagai simbol keanggunan Tiongkok yang mendunia. Gaun ramping dengan kerah tinggi dan potongan halus ini, yang pernah menjadi ikon perempuan Shanghai di era 1930-an, kini tampil kembali di berbagai panggung fesyen dunia dengan sentuhan baru yang menawan.

Dilansir dari Vogue, desainer Huishan Zhang membawa napas baru bagi warisan busana tersebut melalui koleksi Resort 2025 yang memadukan keanggunan klasik dan elemen kontemporer.

Dalam peragaan yang digelar di London, Zhang menampilkan deretan gaun qipao dengan potongan ramping dan detail bordir lembut, namun menggunakan bahan modern seperti neoprene dan sifon ringan. Inspirasi koleksi ini datang dari sosok Madame Song, ikon sosialita Tiongkok yang memperkenalkan estetika Eropa ke dalam budaya mode Asia pada abad ke-20.

Zhang ingin menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan bukan dengan membekukan masa lalu, melainkan dengan menghidupkannya kembali melalui inovasi yang relevan dengan zaman.

Sementara di Tiongkok, gaung kebangkitan qipao terasa kuat dalam Beijing Fashion Week 2025. Menurut laporan CGTN, ajang tersebut mengusung tema 'New Wave, New Power' yang menonjolkan reinterpretasi busana tradisional. Para desainer muda menampilkan qipao dengan warna berani, potongan asimetris, dan sentuhan modern seperti resleting tersembunyi serta bahan ramah lingkungan. Busana yang dulu dianggap formal kini tampil lebih fleksibel dan kasual, menunjukkan transformasi budaya fesyen Tiongkok di era global.

Qipao berakar dari pakaian tradisional Dinasti Qing yang awalnya dikenakan oleh pria dan wanita bangsawan. Namun pada awal abad ke-20, bentuknya berubah menjadi simbol kebebasan dan keanggunan perempuan urban di Shanghai. Kini, evolusi qipao menandai upaya untuk mempertahankan identitas budaya di tengah gempuran mode cepat (fast fashion) yang seragam dan global.

Kebangkitan minat terhadap busana tradisional juga tidak hanya terlihat pada qipao. Seperti dilaporkan oleh South China Morning Post, pakaian hanfu yang berasal dari masa Dinasti Han mengalami kebangkitan luar biasa di kalangan anak muda Tiongkok. Banyak generasi muda yang mengenakan hanfu dalam kegiatan sehari-hari atau mengunggah foto mengenakannya di media sosial seperti Douyin dan Instagram. Fenomena ini mencerminkan keinginan untuk menegaskan identitas budaya serta kebanggaan terhadap akar sejarah mereka.

Dalam laporan yang sama, SCMP mencatat bahwa komunitas pecinta hanfu kini tumbuh pesat, tidak hanya di China tetapi juga di luar negeri. Beberapa influencer bahkan mengenakan hanfu di landmark dunia seperti Menara Eiffel dan Colosseum sebagai bentuk promosi budaya Tiongkok ke dunia internasional. Bagi banyak orang muda, hanfu dan qipao bukan sekadar pakaian, melainkan simbol keterhubungan emosional dengan masa lalu yang ingin mereka bawa ke masa depan.

Kisah serupa juga hadir di Amerika Serikat melalui sosok Heather Guo, seorang mahasiswa dan desainer muda yang memperkenalkan cheongsam ke dunia Barat. Seperti dilansir dari NYU News, Guo memiliki koleksi lebih dari 200 cheongsam vintage yang ia kurasi dan jual di butiknya di New York.

Bagi Guo, setiap potong cheongsam memiliki cerita tersendiri tentang perempuan Tionghoa yang hidup di berbagai zaman. Ia menyebut busana tersebut sebagai "jejak sejarah yang bisa dikenakan."

Dalam wawancaranya, Guo menjelaskan bahwa cheongsam awalnya terinspirasi dari pakaian pria changshan, namun diubah oleh perempuan sebagai bentuk ekspresi kebebasan di era 1920-an. Potongan ramping dan belahan di sisi gaun melambangkan keberanian perempuan Tionghoa untuk menampilkan jati diri mereka.

"Cheongsam bukan hanya pakaian, melainkan pernyataan budaya dan keindahan yang melewati batas waktu," ujar Guo.

Kehadiran desainer seperti Huishan Zhang di panggung global dan tokoh muda seperti Heather Guo di diaspora Tiongkok memperlihatkan bagaimana busana tradisional kini menjadi medium dialog budaya.

Tren "new Chinese chic" terus tumbuh, menyatukan warisan sejarah dengan estetika modern. Cheongsam kini tidak hanya dipakai saat perayaan tradisional, tetapi juga dalam keseharian, bahkan di red carpet internasional.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore