Seorang aktor Opera Peking tampil dengan kostum tradisional penuh warna yang memadukan seni tari, musik, dan drama (Dok. UNESCO)
JawaPos.com - Opera Peking, atau Jingju, adalah seni pertunjukan klasik dari Tiongkok yang menyatukan nyanyian, dialog, akting, serta seni bela diri dalam sebuah panggung megah. Dalam catatan UNESCO, kesenian ini berkembang di Beijing, Tianjin, dan Shanghai, dengan penggunaan dialek Beijing sebagai bahasa utama pementasan yang menjadikannya bagian penting dari identitas budaya Cina. Pertunjukan ini tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, melainkan juga sebagai simbol sejarah dan nilai-nilai masyarakat.
Jenis pertunjukan dalam Opera Peking terbagi dua, yaitu drama sipil dan drama militer. Drama sipil biasanya diiringi alat musik gesek dan tiup seperti jinghu dan dizi, sementara drama militer menonjolkan kekuatan instrumen perkusi seperti bangu dan daluo. Menurut UNESCO, perbedaan penggunaan instrumen ini menciptakan nuansa dramatik yang berbeda sehingga setiap penonton dapat merasakan atmosfer yang sesuai dengan tema cerita.
Keunikan Opera Peking juga terlihat dalam struktur naskahnya. Setiap libretto disusun dengan aturan ketat mengenai bentuk dan rima, sehingga karya ini sekaligus memadukan fungsi sastra dan seni pertunjukan. Dalam arsip UNESCO dijelaskan bahwa keterpaduan kata, musik, dan gerakan tubuh sengaja diatur dengan cermat untuk menciptakan harmoni yang dapat menyentuh penonton secara emosional.
Simbolisme menjadi unsur yang tidak terpisahkan dari Opera Peking. Gerakan mata, tangan, hingga langkah kaki memiliki makna yang harus dipahami, sementara kostum flamboyan dan riasan wajah berwarna-warni berfungsi sebagai tanda kepribadian tokoh. UNESCO menegaskan bahwa warna dan motif riasan bukan sekadar estetika, melainkan bahasa simbolis yang merepresentasikan moralitas dan status sosial.
Proses pewarisan seni ini juga menunjukkan kedalaman budaya Tiongkok. Pengetahuan Opera Peking disampaikan melalui metode lisan dan latihan langsung antara guru dan murid. UNESCO mencatat bahwa murid memulai dari keterampilan dasar seperti gerakan tubuh dan vokal sederhana sebelum melangkah ke adegan yang lebih kompleks, sehingga terbentuk generasi penerus yang terlatih secara disiplin.
Dalam penelitian Dai dan Fu berjudul An Introduction to the Aesthetic Grammar of Peking Opera, dijelaskan bahwa tata estetika Opera Peking mencakup aturan visual dan auditori yang membentuk relasi unik antara aktor dan penonton. Penggunaan ruang panggung, ritme musik, serta perpaduan suara dan gerak menjadi bagian dari grammar estetika yang membuat pertunjukan ini lebih dari sekadar tontonan biasa.
Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa keindahan Opera Peking berakar dari filosofi tradisional Tiongkok. Nilai harmoni, kehormatan, dan keteraturan tercermin dalam penyusunan cerita maupun perkembangan karakter, sehingga seni ini berfungsi tidak hanya untuk memikat mata dan telinga, tetapi juga untuk mengajarkan kebijaksanaan sosial kepada masyarakat. Dengan demikian, estetika Opera Peking mengandung dimensi moral yang kuat.
Bahasa simbolis dalam Opera Peking semakin memperkaya daya tariknya. Warna kostum, gerakan tangan, serta tempo dialog berfungsi sebagai kode non-verbal yang membantu penonton memahami makna mendalam di balik narasi. Kajian tentang tata estetika ini menunjukkan bahwa Opera Peking mengembangkan sistem komunikasi artistik tersendiri yang telah dipahami lintas generasi tanpa perlu penjelasan verbal tambahan.
Di era modern, Opera Peking tetap mampu mempertahankan relevansinya. UNESCO menekankan bahwa keberlangsungan seni ini dijaga melalui kelompok pertunjukan, pusat pelatihan, serta dukungan masyarakat. Regenerasi yang konsisten membuat Opera Peking tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang sebagai simbol budaya yang hidup berdampingan dengan arus globalisasi.
Lebih dari sekadar hiburan, Opera Peking adalah media pendidikan budaya. Melalui kisah sejarah, nilai moral, dan potret kehidupan masyarakat, opera ini mengajarkan penontonnya untuk memahami filosofi hidup bangsa Cina. Pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia membuktikan bahwa Opera Peking tidak hanya penting bagi Cina, tetapi juga merupakan bagian dari warisan peradaban manusia yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
