Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Agustus 2025 | 01.26 WIB

Khamenei Tegaskan Iran Tak akan Tunduk pada AS di Tengah Kebuntuan Perundingan Nuklir

Donald Trump (kiri), dan Ayatollah Ali Khamenei (kanan), menjadi sorotan dalam ketegangan geopolitik terbaru setelah Trump disebut memveto rencana Israel untuk membunuh Khamenei. (Reuters) - Image

Donald Trump (kiri), dan Ayatollah Ali Khamenei (kanan), menjadi sorotan dalam ketegangan geopolitik terbaru setelah Trump disebut memveto rencana Israel untuk membunuh Khamenei. (Reuters)

JawaPos.com - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegakkan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu (24/8), di tengah kebuntuan perundingan nuklir antara Teheran dengan kekuatan Barat.

"Mereka ingin Iran patuh kepada Amerika. Bangsa Iran akan melawan harapan sesat itu dengan sekuat tenaga," kata Khamenei dalam pidatonya di sebuah acara keagamaan, seperti dilaporkan media pemerintah.

Khamenei juga menolak desakan sebagian pihak di dalam negeri yang mendorong negosiasi langsung dengan Washington. Menurutnya, sikap kompromi dengan AS hanya akan membuka jalan bagi 'penghinaan berat' terhadap Iran.

Mengutip via Al-Jazeera, Senin (25/8), komentar keras Khamenei muncul setelah Iran dan tiga negara Eropa—Prancis, Inggris, dan Jerman, sepakat untuk melanjutkan diskusi terkait program nuklir Teheran. 

Negara-negara tersebut sebelumnya mengancam akan mengaktifkan kembali sanksi PBB melalui mekanisme snapback jika Iran menolak berunding.

Pertemuan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Selasa mendatang. Namun, negosiasi ini dibayangi ketegangan setelah Teheran menangguhkan dialog dengan AS. 

Iran menuding Washington dan Israel bertanggung jawab atas serangan terhadap salah satu fasilitas nuklirnya selama perang 12 hari pada Juni lalu.

Sebagaimana diketahui, AS dan sekutu Eropanya menuding Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran bersikeras bahwa program tersebut hanya untuk kepentingan sipil, termasuk energi dan medis.

Pada 2015, Iran menandatangani kesepakatan nuklir (JCPOA) dengan AS dan negara-negara Eropa. Kesepakatan itu mengatur pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi. 

Namun, pada 2018 Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian tersebut dan menerapkan kembali sanksi keras dalam kebijakan 'tekanan maksimum'.

Hubungan Teheran–Washington sendiri sudah lama memburuk sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi, pemimpin pro-Barat Iran saat itu.

Dalam pidatonya, Khamenei menekankan pentingnya persatuan di tengah tekanan internasional. Ia menuding 'agen Amerika dan rezim Zionis' (Israel) berusaha menebar perpecahan di dalam negeri.

"Jalan ke depan bagi musuh adalah menciptakan perpecahan. Karena itu rakyat Iran harus tetap bersatu," tegasnya.

Pernyataan Khamenei memperlihatkan bahwa Iran masih akan mempertahankan sikap keras terhadap AS dan sekutunya, bahkan ketika jalur diplomasi nuklir kembali terbuka.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore