Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Juni 2026 | 00.37 WIB

Perusahaan Minyak AS Paling Diuntungkan atas Krisis Selat Hormuz, Energy Security Tiongkok Paling Kuat

Ilustrasi kapal di Selat Hormuz. Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari krisis Selat Hormuz karena memperoleh "keunggulan nonkompetitif". (Hum English) - Image

Ilustrasi kapal di Selat Hormuz. Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari krisis Selat Hormuz karena memperoleh "keunggulan nonkompetitif". (Hum English)

JawaPos.com - Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) menjadi pihak yang paling diuntungkan dari krisis Selat Hormuz karena memperoleh "keunggulan nonkompetitif" serta peluang menjual pasokan dengan harga lebih tinggi, kata CEO Rosneft (perusahaan energi Rusia), Igor Sechin. Berbicara dalam acara St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, Sechin mengatakan, ekspor hidrokarbon Amerika Serikat saat ini "memecahkan semua rekor".

Mengutip perkiraan perusahaan konsultan energi Norwegia Rystad Energy, Sechin menyebut, perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat berpotensi meraih tambahan keuntungan lebih dari USD 60 miliar pada 2026 apabila harga minyak bertahan di kisaran USD 100 per barel.

"Tambahan penerimaan pajak dari sektor tersebut dapat mencapai sekitar USD 80 miliar," tambahnya.

Sechin juga berpendapat bahwa Tiongkok lebih siap dibandingkan negara-negara lain dalam menghadapi potensi gangguan di Selat Hormuz berkat pendekatan yang menurutnya seimbang terhadap keamanan energi dan perencanaan negara jangka panjang.

Menurut Sechin, investasi Tiongkok dalam energi terbarukan dan infrastruktur transportasi berbiaya rendah telah menyediakan berbagai alternatif bagi konsumen, seperti kendaraan listrik, bus listrik, truk berbahan bakar gas, sistem metro, kereta listrik, dan taksi listrik.

Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan itu memicu rangkaian serangan balasan di kawasan pada Februari, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran serta pasokan energi global.

Iran kemudian melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat. Teheran juga melakukan pendekatan berbeda terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz, salah satu koridor transit energi terpenting di dunia.

Gencatan senjata kemudian mulai berlaku, meskipun upaya diplomatik untuk mencapai penyelesaian yang lebih luas masih terus berlangsung.

Sumber: Anadolu

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore