Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Juli 2025 | 06.32 WIB

Thailand dan Kamboja Sepakati Gencatan Senjata Tanpa Syarat Setelah 5 Hari Pertempuran Sengit di Perbatasan

PM Malaysia Anwar Ibrahim (tengah).(Dok. Al Jazeera).

JawaPos.com – Thailand dan Kamboja sepakat untuk melakukan gencatan senjata "segera dan tanpa syarat" setelah lima hari bentrokan mematikan di sepanjang perbatasan kedua negara Asia Tenggara tersebut.

Kesepakatan itu diumumkan pada Senin (28/7/2025) oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang menjadi tuan rumah pertemuan damai antara kedua pemimpin di Putrajaya, wilayah administratif federal Malaysia yang terletak di selatan Kuala Lumpur dan menjadi pusat pemerintahan negara itu.

Dilansir dari Al Jazeera, Senin (28/7), gencatan senjata ini disepakati menyusul pertemuan langsung antara Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh duta besar Amerika Serikat dan Tiongkok. Presiden AS Donald Trump disebut memberikan tekanan diplomatik signifikan dengan mengaitkan kelanjutan negosiasi tarif dengan penghentian pertempuran.

Perdana Menteri Malaysia menyatakan bahwa kesepakatan itu akan mulai berlaku pada pukul 17.00 GMT dan akan dilanjutkan dengan pertemuan tingkat tinggi antara komandan militer kedua negara pada hari Selasa.

"Ini adalah langkah awal yang vital untuk meredakan ketegangan dan memulihkan perdamaian serta keamanan," ujarnya.

Konflik perbatasan yang dipicu oleh sengketa wilayah bersejarah ini telah menewaskan sedikitnya 35 orang dan memaksa lebih dari 270.000 warga dari kedua sisi perbatasan mengungsi.

Ketegangan memuncak pekan lalu ketika seorang prajurit Thailand kehilangan kakinya akibat ledakan ranjau darat. Thailand merespons dengan menutup sebagian perbatasannya, mengusir duta besar Kamboja, serta menarik diplomatnya dari Phnom Penh. Pertukaran tembakan kemudian pecah pada Kamis pagi, dengan masing-masing pihak saling menyalahkan atas eskalasi kekerasan.

Sementara itu, Kamboja menuding militer Thailand melakukan serangan ke wilayah-wilayah yang diklaim sebagai milik Kamboja, termasuk di sekitar kuil Ta Muen Thom dan Ta Kwai. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menyatakan pasukannya berhasil memukul mundur serangan berat dari udara dan darat oleh Thailand.

Di tengah tudingan itu, laporan Al Jazeera juga menyebut bahwa pertempuran terus berlanjut bahkan saat pertemuan perdamaian dimulai di Putrajaya. Wartawan Tony Cheng melaporkan dari Provinsi Surin bahwa suara tembakan artileri masih terdengar, dan pasukan militer Thailand terus memperkuat posisi mereka.

Kendati demikian, Presiden Hun Manet menyebut pertemuan tersebut menghasilkan "hasil yang sangat baik" dan menyampaikan harapannya agar kesepakatan itu segera menghentikan pertumpahan darah.

Ia pun memuji peran tegas Trump dalam membuka jalan menuju gencatan senjata serta mengajak Thailand untuk membangun kembali kepercayaan bersama.

Sementara itu, Phumtham, yang sebelumnya sempat meragukan ketulusan Kamboja, kini menyatakan komitmennya untuk menjalankan gencatan senjata dengan itikad baik. Meski demikian, ketidakpercayaan masih membayangi kedua pihak, seiring dengan meningkatnya sentimen nasionalisme di masing-masing negara.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore