Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Juli 2025 | 20.18 WIB

Gaza Alami Bencana Kelaparan Serius, 90 Ribu Perempuan dan Anak Menderita Malnutrisi

Gaza alami bencana kelaparan serius. (Al-Jazeera) - Image

Gaza alami bencana kelaparan serius. (Al-Jazeera)

JawaPos.com-Krisis kemanusiaan di Gaza kian mendalam. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa hampir satu dari tiga warga di Jalur Gaza kini harus bertahan hidup tanpa makan selama berhari-hari. 

Kondisi ini menciptakan lonjakan kasus malnutrisi, terutama di kalangan perempuan dan anak-anak.

Malnutrisi meningkat tajam, dengan 90.000 perempuan dan anak-anak yang membutuhkan perawatan segera,” kata WFP dalam pernyataannya dikutip via BBC.

Situasi ini mempertegas peringatan yang telah disuarakan selama berminggu-minggu, bahwa kelaparan massal kini bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas menyebutkan, sembilan orang lagi meninggal dunia akibat malnutrisi pada pekan lalu. Total korban jiwa akibat kekurangan gizi sejak pecahnya perang kini mencapai 122 orang.

Israel, yang mengontrol masuknya seluruh pasokan ke wilayah Gaza, membantah adanya hambatan terhadap bantuan kemanusiaan. Pemerintah Israel menyalahkan Hamas atas keterbatasan distribusi dan menyatakan tidak memberlakukan pembatasan terhadap masuknya bantuan.

Namun, tekanan internasional terus meningkat. Inggris, Prancis, dan Jerman, secara terbuka menyerukan agar Israel segera mencabut pembatasan terhadap aliran bantuan. 

“Menahan bantuan kemanusiaan esensial untuk penduduk sipil adalah tindakan yang tidak bisa diterima,” demikian pernyataan bersama tiga negara tersebut.

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer bahkan menyatakan bahwa Inggris tengah mempertimbangkan untuk menyalurkan bantuan lewat jalur udara. 

“Kabar bahwa Israel akan mengizinkan negara-negara menjatuhkan bantuan dari udara datang terlalu terlambat, tetapi kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menyalurkan bantuan melalui jalur ini,” tulisnya di The Mirror.

Sir Keir menambahkan bahwa Inggris sedang mempercepat upaya evakuasi anak-anak Gaza yang membutuhkan perawatan medis kritis ke negaranya.

Sementara itu, meskipun Uni Emirat Arab dan Yordania dilaporkan akan memulai pengiriman udara, seorang pejabat senior Yordania mengatakan kepada BBC bahwa pihak militer mereka belum menerima izin dari Israel. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut rencana pengiriman udara itu sebagai pengalihan perhatian dari ketidakaktifan pemerintah Israel. 

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengungkapkan kekecewaannya terhadap minimnya kepedulian internasional.

“Saya tidak bisa menjelaskan tingkat ketidakpedulian dan ketidakaktifan yang ditunjukkan oleh begitu banyak pihak di komunitas internasional, kurangnya rasa kasih, kurangnya kejujuran, kurangnya kemanusiaan,” kata Guterres dalam pidatonya di Majelis Global Amnesty International.

Dilaporkan juga kalau lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas ketika berusaha mendapatkan makanan sejak 27 Mei lalu, saat distribusi bantuan mulai dialihkan ke Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung AS dan Israel, menggantikan sistem bantuan yang sebelumnya dipimpin PBB.

Di tengah penderitaan yang semakin meluas, dunia internasional dihadapkan pada pilihan moral yang mendesak, bertindak nyata atau terus membiarkan krisis ini berkembang menjadi tragedi kemanusiaan yang lebih besar.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore