
Mohsen Mahdawi (kanan) lulus dari Universitas Columbia AS. (X @maryamalwan)
JawaPos.com – Mohsen Mahdawi, seorang aktivis Palestina berusia 34 tahun, akhirnya naik panggung wisuda Universitas Columbia pada Senin (19/5), setelah sempat ditahan oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat.
Ia lulus dengan gelar sarjana filsafat dari Sekolah Studi Umum Columbia, dan momen kelulusannya menjadi simbol perlawanan atas penahanan yang dinilai bermotif politik.
Seperti dilansir dari The Guardian, Mahdawi ditangkap di Colchester, Vermont, saat menghadiri wawancara naturalisasi pada April lalu.
Pemerintahan Trump memerintahkan deportasinya dengan menggunakan undang-undang imigrasi yang memberikan wewenang kepada menteri luar negeri untuk mencabut status hukum individu yang dianggap mengancam kebijakan luar negeri AS.
Namun, ternyata Mahdawi terbukti tidak pernah didakwa atas tindak kriminal. Penangkapannya pun dinilai berkaitan dengan aktivitas advokasinya untuk Palestina.
Dia merupakan satu dari beberapa mahasiswa internasional yang ditahan dalam beberapa bulan terakhir karena keterlibatannya dalam gerakan solidaritas Palestina di kampus.
Dalam suasana wisuda yang emosional, Mahdawi berjalan melintasi panggung mengenakan keffiyeh, simbol solidaritas Palestina. Langkahnya disambut sorak sorai mahasiswa.
Dia kemudian mengikuti aksi peringatan di luar gerbang kampus, mengangkat foto Mahmoud Khalil, teman sekelasnya yang masih dalam tahanan federal di Louisiana.
“Pemerintahan Trump ingin merampas kesempatan ini dari saya. Mereka ingin saya berada di penjara, tidak menempuh pendidikan, tidak merayakan hari kelulusan,” kata Mahdawi.
Mahdawi akhirnya dibebaskan dua minggu lalu setelah seorang hakim federal mengkritik tindakan pemerintah sebagai bentuk penindasan ala era McCarthy.
Meski demikian, Mahdawi mengaku merasa dikhianati oleh pihak universitas yang menurutnya tunduk pada tekanan politik federal.
Dia juga menyoroti keputusan Columbia yang mengganti kepemimpinan Departemen Studi Timur Tengah, serta kegagalan kampus untuk secara terbuka menentang penangkapannya dan Khalil.
Meski telah diterima di program magister Columbia untuk musim gugur mendatang, Mahdawi masih menghadapi ketidakpastian karena tidak mendapatkan bantuan keuangan. Namun, dia menyatakan akan terus memperjuangkan isu Palestina.
“Saat saya naik panggung, pesannya jelas: kami akan terus memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan. Tidak ada yang bisa menghentikan kami—tidak pemerintah, tidak juga universitas,” tegasnya.
Sementara itu, Mahmoud Khalil dijadwalkan menerima ijazahnya dari program magister studi internasional Columbia akhir pekan ini. Sementara untuk status hukumnya masih menunggu keputusan hakim atas status penahanannya.

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
