Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Mei 2025 | 19.32 WIB

Aktivis Palestina Mohsen Mahdawi Naik Panggung Wisuda Universitas Columbia Amerika Serikat, Sempat Ditahan Imigrasi AS karena Alasan Politis

Mohsen Mahdawi (kanan) lulus dari Universitas Columbia AS. (X @maryamalwan) - Image

Mohsen Mahdawi (kanan) lulus dari Universitas Columbia AS. (X @maryamalwan)

JawaPos.com – Mohsen Mahdawi, seorang aktivis Palestina berusia 34 tahun, akhirnya naik panggung wisuda Universitas Columbia pada Senin (19/5), setelah sempat ditahan oleh otoritas imigrasi Amerika Serikat. 

Ia lulus dengan gelar sarjana filsafat dari Sekolah Studi Umum Columbia, dan momen kelulusannya menjadi simbol perlawanan atas penahanan yang dinilai bermotif politik.

Seperti dilansir dari The Guardian, Mahdawi ditangkap di Colchester, Vermont, saat menghadiri wawancara naturalisasi pada April lalu.

Pemerintahan Trump memerintahkan deportasinya dengan menggunakan undang-undang imigrasi yang memberikan wewenang kepada menteri luar negeri untuk mencabut status hukum individu yang dianggap mengancam kebijakan luar negeri AS.

Namun, ternyata Mahdawi terbukti tidak pernah didakwa atas tindak kriminal. Penangkapannya pun dinilai berkaitan dengan aktivitas advokasinya untuk Palestina.

Dia merupakan satu dari beberapa mahasiswa internasional yang ditahan dalam beberapa bulan terakhir karena keterlibatannya dalam gerakan solidaritas Palestina di kampus.

Dalam suasana wisuda yang emosional, Mahdawi berjalan melintasi panggung mengenakan keffiyeh, simbol solidaritas Palestina. Langkahnya disambut sorak sorai mahasiswa.

Dia kemudian mengikuti aksi peringatan di luar gerbang kampus, mengangkat foto Mahmoud Khalil, teman sekelasnya yang masih dalam tahanan federal di Louisiana.

“Pemerintahan Trump ingin merampas kesempatan ini dari saya. Mereka ingin saya berada di penjara, tidak menempuh pendidikan, tidak merayakan hari kelulusan,” kata Mahdawi.

Mahdawi akhirnya dibebaskan dua minggu lalu setelah seorang hakim federal mengkritik tindakan pemerintah sebagai bentuk penindasan ala era McCarthy.

Meski demikian, Mahdawi mengaku merasa dikhianati oleh pihak universitas yang menurutnya tunduk pada tekanan politik federal.

Dia juga menyoroti keputusan Columbia yang mengganti kepemimpinan Departemen Studi Timur Tengah, serta kegagalan kampus untuk secara terbuka menentang penangkapannya dan Khalil.

Meski telah diterima di program magister Columbia untuk musim gugur mendatang, Mahdawi masih menghadapi ketidakpastian karena tidak mendapatkan bantuan keuangan. Namun, dia menyatakan akan terus memperjuangkan isu Palestina.

“Saat saya naik panggung, pesannya jelas: kami akan terus memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan. Tidak ada yang bisa menghentikan kami—tidak pemerintah, tidak juga universitas,” tegasnya.

Sementara itu, Mahmoud Khalil dijadwalkan menerima ijazahnya dari program magister studi internasional Columbia akhir pekan ini. Sementara untuk status hukumnya masih menunggu keputusan hakim atas status penahanannya.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore