Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Desember 2018 | 18.56 WIB

Hidayat Terkejut Saat Tsunami Setinggi 20 Meter Sapu Pantai Carita

Hidayat ada di rumah ketika ombak melonjak setinggi  20 meter ke daratan. Ia mengatakan, dia tidak mendengar tentang dampak yang signifikan sampai pagi berikutnya ketika dia dibangunkan dari rumahnya oleh tetangga - Image

Hidayat ada di rumah ketika ombak melonjak setinggi 20 meter ke daratan. Ia mengatakan, dia tidak mendengar tentang dampak yang signifikan sampai pagi berikutnya ketika dia dibangunkan dari rumahnya oleh tetangga

JawaPos.com - Setidaknya 222 orang telah tewas dan lebih dari 800 lainnya terluka setelah tsunami dahsyat yang melanda Selat Sunda di Indonesia pada Sabtu malam. Dilansir dari Al Jazeera pada Minggu (23/12), pemandu lokal yang membawa turis melihat Gunung Anak Krakatau sejak 1993, Samsul Hidayat mengatakan tidak ada gejala alam sebelumnya dalam insiden ini.


"Saya sangat terkejut ketika tsunami melanda. Tidak ada gempa bumi dan cuacanya baik. Tidak ada hujan atau angin dan kita bisa melihat bulan purnama," kata Hidayat, yang tinggal dekat dengan salah satu daerah Carita, Banten yang paling parah terkena dampaknya.


Hidayat ada di rumah ketika ombak melonjak setinggi  20 meter ke daratan. Ia mengatakan, dia tidak mendengar tentang dampak yang signifikan sampai pagi berikutnya ketika dia dibangunkan dari rumahnya oleh tetangga.


Setidaknya 30 orang juga diyakini hilang menurut BNPB, tetapi angka-angka ini cenderung meningkat karena beberapa daerah sulit dijangkau.  "Saya menghabiskan sepanjang pagi membantu warga setempat dengan melakukan bersih-bersih," kata Hidayat.


"Saya melihat sekitar 30 mayat berserakan di sekitar Pantai Carita. Seorang mayat perempuan di bawah tumpukan sampah,” lanjutnya. Tsunami diperkirakan dipicu oleh letusan gunung berapi Anak Krakatoa, sebuah pulau vulkanik yang terbentuk dari gunung berapi Krakatau.


Menurut, seorang dosen geologi struktural di School of Environmental Sciences, University of Hull, Eddie Dempsey, bahkan jika sistem peringatan telah ada, sepertinya hampir tidak akan ada gejala yang cukup bisa dibaca oleh manusia.


"Peristiwa ini terjadi dengan sedikit atau tanpa peringatan," katanya kepada Al Jazeera. "Mereka sangat kuat, sehingga ada sedikit yang bisa dilakukan dari sudut pandang teknik,".


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) menyatakan adanya kemungkinan tanah longsor bawah air yang disebabkan oleh letusan Anak Krakatau, yang diperkirakan kemudian memicu tsunami.


"Kemungkinan penyebabnya adalah tanah longsor bawah tanah yang signifikan terkait dengan letusan Anak Krakatau yang sedang berlangsung," ujar Dempsey kepada Al Jazeera, sebuah prediksi yang sama dengan apa yang dikatakan BMKG.


Daniel Quinn mengelola situs web Gunung Bagging, yang meneliti puncak di Indonesia dan Malaysia, dan mengunjungi Gunung Anak Krakatau pada bulan November tahun ini. Dia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia tidak terkejut dengan jumlah korban tewas, mengingat kedekatan gunung berapi dengan daerah yang dihuni.


"Kejadian seperti ini mengejutkan semua orang. Ketika saya pergi ke sana pada bulan November Anda masih bisa melakukan perjalanan sehari ke kamp di Rakata (sisa paling signifikan dari gunung berapi Krakatau asli) untuk menyaksikan letusan dari jarak yang biasanya aman. Tidak ada tempat berlindung tsunami di Rakata yang saya tahu,” ujarnya.


Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore