Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Desember 2023 | 19.59 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Buntut Konflik Memanas di Timur Tengah

Konflik yang melanda Timur Tengah mengakibatkan harga minyak dunia melonjak (Sumber: Getty Images) - Image

Konflik yang melanda Timur Tengah mengakibatkan harga minyak dunia melonjak (Sumber: Getty Images)

JawaPos.com – Harga minyak dunia mulai alami lonjakan di bursa perdagangan Asia pada Kamis (28/12) pagi WIB. Kenaikan ini dipicu konflik negara Timur Tengah yang sedang memanas.

Banyak perusahaan pelayaran global khawatir bahwa jalur distribusi yang biasa mereka lakukan tidak bisa dilalui. Mereka mengaku baru bisa kembali ke rute Laut Merah apabila konflik di negara-negara penghasil minyak terbesar di dunia telah mereda.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 20 sen, atau sekitar 0,3% menjadi $79,85 (Rp1,2 Juta) per barel per Kamis dini hari tadi. Sementara minyak mentah berjangka WTI AS naik 24 sen, atau 0,3% menjadi $74,35 (Rp 1,1 Juta) per barel.

Harga minyak sempat turun hampir 2% pada Rabu kemarin karena perusahan pelayaran besar mulai kembali ke Laut Merah.

“(Saat ini) kekhawatiran mengenali pelayaran di Laut Merah telah mereda. Namun, kekhawatiran yang berlanjut tentang ketegangan di Timur Tengah, terutama keterlibatan Iran di wilayah tersebut membuat penjualan semakin sulit dilakukan,” ungkap Hiroyuki Kikukawa, Presiden NS Trading, salah satu cabang Nissan di bidang sekuritas.

“Kemungkinan pasar akan mencoba menaikkan (harga minyak) lagi, mungkin di awal tahun baru. Juga dikarenakan ada ekspektasi pemulihan permintaan bahan bakar pasca pelonggaran moneter di Amerika serikat dan permintaan minyak tanah yang lebih tinggi selama musim dingin di belahan bumi utara,” lanjutnya.

Sementara itu perusahaan pelayaran asal Denmark, Maersk mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjadwalkan beberapa lusin kapal kontainer untuk melakukan perjalanan melalui Terusan Suez dan Laut Merah dalam beberapa minggu mendatang.

Sebelumnya mereka menyerukan penghentian sementara rute tersebut sepanjang bulan ini pasca serangan milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Meski demikian, aktifnya serangan militer Israel yang berkepanjangan di Gaza dan meluasnya konflik hingga serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah tetap jadi alasan utama sentimen pasar terhadap kenaikan minyak.

Apalagi kepala staf Israel, Herzi Halevi mengatakan kepada wartawan pada Selasa (26/12) lalu bahwa perang akan berlangsung selama berbulan-bulan. Sehari setelahnya, Israel menggempur Gaza tengah melalui darat, laut dan udara.

Diperkirakan bank sentral utama seperti Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga awal tahun depan, termasuk memberikan dukungan pinjaman. Suku bunga yang lebih rendah dapat mengurangi biaya pinjaman, sekaligus merangsang pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.

Di Amerika Serikat (AS) sendiri, nampak tidak ada reaksi yang signifikan terhadap peningkatan stok minyak mentah negara Adidaya tersebut pekan lalu. Berdasarkan data American Petroleum Institute pada Rabu lalu, persediaan minyak AS naik 1,84 juta barel dalam sepekan hingga 22 Desember kemarin.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore