
BOMBARDIR BERLANJUT: Asap membubung tinggi saat rudal-rudal Israel menghantam beberapa bangunan di Kota Gaza, Palestina, Minggu (19/11).
JawaPos.com – Kebohongan Israel mulai terkuak satu per satu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mereka sengaja mengarang cerita dan membuat bukti-bukti palsu untuk membenarkan serangan brutal di Jalur Gaza. Salah satunya klaim bahwa RS Al Shifa merupakan basis pusat komando Hamas.
CNN melaporkan, video yang dirilis Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 15 November menunjukkan persenjataan Hamas yang ditemukan di RS Al Shifa.
Saat itu Jubir IDF Letkol Jonathan Conricus memimpin tur tunggal dan jam tangannya menunjukkan pukul 13.18 waktu setempat. Hanya ada satu senjata di video yang dirilis IDF itu.
Fox News dan BBC diberi akses ke RS Al Shifa untuk melewati jalur yang ditentukan IDF. Koresponden asing Fox News Trey Yingst mengunjungi lokasi kejadian saat hari sudah gelap. Dalam laporannya, dia menyebut saat itu sudah tengah malam.
Yingst diperlihatkan sebuah tas yang terletak di belakang mesin MRI dengan dua senjata AK-47 di atasnya. Namun, video IDF yang direkam sebelumnya hanya memperlihatkan satu senjata AK-47. Tidak jelas dari mana senjata AK-47 kedua berasal dan mengapa senjata itu tidak terlihat dalam video IDF sebelumnya. Senjata yang bertambah itu mengindikasikan ia mungkin telah dipindahkan atau ditempatkan di sana sebelum kru berita tiba.
BBC juga diberi akses ke rumah sakit esoknya dan dua senjata AK-47 masih terlihat di atas tas di ruang MRI. Dua senjata usang itu tak bisa dijadikan bukti kuat bahwa RS terbesar di Jalur Gaza tersebut digunakan sebagai pusat komando Hamas.
IDF berdalih, perbedaan video milik militer dan rekaman BBC disebabkan oleh fakta bahwa ada lebih banyak persenjataan dan aset teroris yang ditemukan sepanjang hari. ’’Tudingan bahwa IDF memanipulasi media tidak benar,’’ bunyi sanggahan IDF.
Namun, itu bukan satu-satunya kebohongan IDF yang terungkap. Foto yang mereka klaim sebagai terowongan Hamas di RS Al Shifa diyakini merupakan tandon air. Ia sesuai dengan foto tandon air di RS tersebut sebelum IDF menyerang masuk. Karena itu, hingga kemarin (19/11), IDF tak bisa menunjukkan video maupun foto mereka saat memasuki area yang diklaim sebagai terowongan Hamas di bawah RS Al Shifa tersebut.
’’Israel gagal memberikan bukti yang diperlukan untuk membenarkan bahwa rumah sakit dapat dijadikan sasaran berdasar hukum perang,’’ ujar Mai El-Sadany, pengacara HAM dan direktur eksekutif Tahrir Institute for Middle East Policy di Washington.
Di sisi lain, Haaretz melaporkan, penyelidikan resmi Israel menyimpulkan bahwa Hamas tidak tahu tentang festival musik di Nova yang diadakan di sebelah Kibbutz Re’im. Hamas bermaksud menyusup ke Re’im dan desa-desa lain dan mengetahui festival itu melalui drone atau parasut yang mereka pakai. Dengan sistem komunikasi yang mereka pakai, pasukan Hamas akhirnya diarahkan ke sana secara spontan.
Sebuah helikopter tempur tentara Israel tiba di lokasi kejadian dan menembaki pejuang Palestina. Mereka tampaknya juga mengenai beberapa pengunjung pesta yang merupakan warga Israel sendiri dan orang asing. Fakta itu didasarkan pada interogasi dari anggota Hamas dan penyelidikan polisi Israel atas insiden tersebut.
Polisi Israel dan tokoh keamanan senior lainnya yang diwawancarai Haaretz mengungkapkan, salah satu temuan yang memperkuat penilaian itu adalah bahwa pejuang perlawanan pertama tiba di lokasi festival dari Route 232, bukan dari arah perbatasan Gaza tempat adanya pesta. Sebanyak 360 orang tewas di festival tersebut.
Serangan di festival musik itu dijadikan alasan oleh Israel untuk menyerang Jalur Gaza dalam skala besar. Namun, mereka tak mau mengakui bahwa sebagian korban di festival itu tewas karena serangan pasukan IDF sendiri dari helikopter.
Dalam pengeboman halaman RS Arab Al Ahli pada 17 Oktober yang menewaskan lebih dari 500 warga sipil, Israel mengklaim bahwa itu berasal dari roket Hamas yang salah sasaran. Namun, mantan anggota tim media Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Hananya Naftali, membantah narasi itu dengan menulis di X bahwa Angkatan Udara Israel sengaja menargetkan RS tersebut untuk melenyapkan anggota Hamas. Namun, setelah itu, Naftali menghapus tweet-nya.
Video yang dianalisis Al Jazeera juga menunjukkan bahwa tidak mungkin serangan itu berasal dari dalam kota karena rudal Hamas. Upaya lain untuk menggambarkan negatif Hamas terdapat pada video yang menampilkan seorang wanita yang menyamar sebagai perawat Palestina di RS Al Shifa. Dia menuduh Hamas mengambil alih RS itu dan mencuri bahan bakar serta pasokan medis yang sangat dibutuhkan. Perawat tersebut, yang tampak menangis dan tertekan, mendorong warga sipil meninggalkan rumah sakit karena adanya ancaman. Suara bom terdengar dalam video itu.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
