
Jabat tangan antara Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin (kiri) dan kepala Organisasi Pembebasan Palestina Yasser Arafat (kanan) dengan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton di tengah.
JawaPos.com – Tiga puluh tahun yang lalu, Palestina dan Israel pertama kali melakukan negosiasi menuju ‘two-state solution’ atau solusi dua negara yang terwujud dalam Oslo Accords.
Pertemuan di halaman Gedung Putih Washington ini dilakukan untuk menandatangani kesepakatan yang dipercaya bisa menjadi cikal bakal perdamaian di kedua wilayah tersebut.
Sayangnya, Oslo Accords tidak berhasil dilaksanakan dan Palestina tetap dijajah oleh Israel seperti yang terjadi akhir-akhir ini.
Dikutip dari Al Jazeera pada Minggu (12/11), pada awalnya, di tahun 1993 Palestina dan Israel memiliki tekad untuk berdamai dan menghentikan permusuhan yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Palestina mengakui hak kedaulatan Israel, sebaliknya Israel mengakui hak Palestina untuk membentuk pemerintahan dan menentukan nasib sendiri.
Perjanjian ini terwujud dalam Oslo Accords I, dimana kedua pihak saling mengakui dan dijelaskan lebih lanjut dalam Oslo II, dimana Israel secara perlahan akan menyerahkan sebagian wilayah kepada Palestina.
Oslo Accord I menyatukan perdana menteri Israel, Yitzhak Rabin, dan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat.
Tindakan saling berjabat tangan di antara keduanya dianggap sebagai gestur penting yang membuat mereka bersama Menteri Luar Negeri Israel, Shimon Peres, menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun berikutnya.
Oslo I yang ditandatangani pada 13 September 1993 ini berisi tentang kesepakatan antara kepemimpinan Israel dan Palestina yang saling mengakui.
Mereka berjanji untuk saling mengakhiri konflik yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut.
Kemudian pada Oslo II yang ditandatangani pada September 1995, memberikan rincian lebih lanjut tentang struktur badan yang seharusnya muncul dalam proses perdamaian.
Oslo Accord seharusnya membawa kemerdekaan bagi Palestina dengan menjadi negara yang berdampingan dengan Israel, namun kenyataannya tidak demikian.
Pada 4 November 1995, perdamaian terhenti ketika Yitzhak Rabin dibunuh oleh ekstremis Yahudi.
Shimon Peres kemudian menggantikannya walau tidak berselang lama, karena pemilu selanjutnya dimenangkan oleh Benjamin Netanyahu yang saat ini masih menjadi Perdana Menteri Israel.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
