Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Oktober 2023 | 17.19 WIB

Dampak Suhu Ekstrem pada Kematian Lumba-Lumba di Amazon

Para peneliti dari Institut Mamiraua mengambil lumba-lumba mati di Danau Tefe karena dampak suhu tinggi dan kekeringan. - Image

Para peneliti dari Institut Mamiraua mengambil lumba-lumba mati di Danau Tefe karena dampak suhu tinggi dan kekeringan.

JawaPos.com - Bangkai 120 lumba-lumba sungai ditemukan mengambang di anak sungai Amazon selama seminggu terakhir dalam keadaan yang diduga para ahli disebabkan oleh kekeringan parah dan cuaca panas.

Para peneliti yakin, permukaan sungai yang rendah selama kekeringan parah telah memanaskan air hingga mencapai suhu yang tidak dapat ditoleransi oleh lumba-lumba. Ribuan ikan baru-baru ini mati di sungai Amazon karena kekurangan oksigen di dalam air.

Lumba-lumba sungai Amazon, sebagian besar berwarna merah jambu mencolok, adalah spesies air tawar unik yang hanya ditemukan di sungai-sungai Amerika Selatan dan merupakan salah satu dari segelintir lumba-lumba air tawar yang tersisa di dunia. Siklus reproduksi yang lambat membuat populasi mereka sangat rentan terhadap ancaman.

Di tengah bau tak sedap lumba-lumba yang membusuk, para ahli biologi dan ahli lainnya yang mengenakan pakaian pelindung diri dan masker melanjutkan observasi pada Senin (2/10) untuk mengambil mamalia yang mati dari danau dan melakukan otopsi pada bangkai tersebut untuk menentukan kematiannya dilansir dari Reuters.

Para ilmuwan tidak mengetahui secara pasti apakah kekeringan dan panas merupakan penyebab meningkatnya kematian lumba-lumba. Mereka berupaya menyingkirkan penyebab lain, misalnya infeksi bakteri yang bisa membunuh lumba-lumba di danau yang terbentuk di tepi Sungai Tefe sebelum mengalir ke Amazon.

Setidaknya 70 bangkai muncul ke permukaan pada Kamis (28/9) ketika suhu air Danau Tefe mencapai 39 derajat Celsius, 10 derajat lebih tinggi dari rata-rata sepanjang tahun ini.

Suhu air menurun selama beberapa hari tetapi naik lagi pada Minggu (1/10) menjadi 37 derajat Celsius, kata para ahli.

Aktivis lingkungan menyalahkan kondisi yang tidak biasa ini pada perubahan iklim, yang membuat kekeringan dan gelombang panas lebih mungkin terjadi. Peran pemanasan global dalam kekeringan di Amazon saat ini masih belum jelas dan faktor lain seperti El Nino juga ikut berperan.

"Kami telah mendokumentasikan 120 bangkai dalam seminggu terakhir," kata Miriam Marmontel, peneliti di lembaga lingkungan Mamiraua yang berfokus pada wilayah sungai pertengahan Solimoes.

"Sekitar delapan dari sepuluh bangkai adalah lumba-lumba merah muda, yang disebut 'botos' di Brasil, yang mewakili 10% dari perkiraan populasi mereka di Danau Tefe," kata Miriam.

Boto dan lumba-lumba sungai abu-abu yang disebut 'tucuxi' termasuk dalam daftar merah spesies terancam oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

"Sepuluh persen merupakan persentase kepunahan yang sangat tinggi, dan kemungkinan peningkatannya dapat mengancam kelangsungan hidup spesies di Danau Tefe," pungkas Miriam.

Institut Konservasi Keanekaragaman Hayati, Chico Mendes di Brasil telah mengerahkan dokter hewan dan ahli mamalia air untuk menyelamatkan lumba-lumba yang masih hidup di danau tersebut. Mereka tidak dapat dipindahkan ke perairan sungai yang lebih dingin sampai para peneliti mengesampingkan penyebab bakteriologis dari kematian tersebut.

Editor: Nicolaus
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore